Dosen
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kesehatan adalah suatu
kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia yang sangat tidak
ternilai harganya. Kesehatan sangatlah berharga walaupun seringkali banyak
orang yang menyepelekannya. Kalau sedang sakit, barulah orang sibuk mengobati
dan sadar betapa berharganya arti kesehatan tersebut. Seperti yang saya alami,
ketika sakit datang, barulah saya sadar betapa untuk kembali sehat sangatlah
susah, dan merasakan bahwa kesehatan sangatlah penting artinya. Seperti kata
pepatah, “lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Oleh karena itu, setiap
orang hendaknya membudayakan hidup sehat supaya tidak sakit.
Tulisan ini dibuat
berdasarkan pengalaman saya setelah dua kali sakit deman berdarah (DB) yaitu pada tahun ajaran 2007/2008 (saat UAS
semester I, S1) dan tahun ajaran 2012/2013 (saat UAS semester I, S2). Agak aneh
sebenarnya, sakit DB sama-sama pada saat
UAS semester I dan sama-sama harus opname di rumah sakit sampai beberapa hari.
Akan tetapi, sakit DB yang ke-2 lebih parah dari pada sakit DB yang pertama. DB
yang ke-2 ini ada komplikasi dengan typhus
sehingga menyebabkan ketidakstabilan fungsi hati. Oleh karena itu, sejak hari Sabtu, 29
Desember 2012 hingga Jumat 4 Januari 2013, saya harus dirawat di rumah sakit
(RS). Bahkan ketika checkup pada hari
Senin, 7 Januari 2012, dokter menyarankan saya untuk benar-benar istirahat di
rumah selama 6 hari lagi (terhitung dari
tanggal 7-12 Januari 2012) dan beliau belum mengizinkan saya kembali ke
Yogyakarta untuk mengikuti UAS dan mengerjakan aktivitas yang lainnya di sana.
B.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan
dijelaskan tentang:
1.
Apa
yang dimaksud dengan DB?
2.
Bagaimana
gejala DB?
3.
Bagaimana pemeriksaan untuk mendeteksi DB?
4.
Bagaimana
cara penanganan DB?
5.
Penyakit
apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB?
6.
Bagaimana
cara pencegahan DB?
7.
Apa
hikmah yang dapat diambil dari sakit DB?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah:
1.
Untuk
mendefinisikan apa yang dimaksud dengan DB.
2.
Untuk
mengetahui bagaimana gejala DB.
3.
Untuk
mengetahui bagaimana pemeriksaan
guna mendeteksi DB.
4.
Untuk
mengetahui bagaimana cara penanganan DB.
5.
Untuk
mengetahui penyakit apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB.
6.
Untuk
mengetahui bagaimana cara pencegahan DB.
7.
Untuk
mengambil hikmah dari sakit DB.
BAB
II
ISI
A. Demam
Berdarah (DB)
Penyakit demam berdarah atau
sering dikenal dengan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue. Menurut Gina Septiani (2009), Virus dengue merupakan
mikroorganisme yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.
Virus hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Oleh karena itu, demi kelangsungan
hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati, terutama
untuk kebutuhan protein. Jika daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi
virus tersebut rendah maka sel jaringan orang tersebut akan semakin rusak. Sebaliknya
jika daya tahan tubuh baik, maka infeksi tersebut akan sembuh secara sendirinya
dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuh
orang tersebut.
Lebih lanjut, Gina Septiani
(2009) mengatakan bahwa penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau
dapat juga oleh gigitan nyamuk Aedes albopictus . Nyamuk yang menularkan penyakit adalah nyamuk betina
dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau binatang untuk hidup dan
berkembang biak. Nyamuk betina Aedes
aegypti umumnya menggigit pada pagi dan siang hari, menyenangi tempat
teduh, terlindung dari sinar matahari, dan berbau manusia. Sarang nyamuk ini selain
di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi bila keadaan kelas
gelap dan lembab. Sedangkan nyamuk Aedes
albopictus hidup di luar rumah misalnya di kebun yang rindang. Di
perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya, dari kantor
ke kantor lainnya, atau terbang ke tempat-tempat umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain.
B. Gejala
DB
Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai mana yang telah disebutkan di atas dapat
menyebabkan 3 macam demam berdarah.
Agung Prasetyo Wibowo (2012) menyebutkan 3 macam demam berdarah sebagai
berikut:
1.
Dengue Fever atau demam dengue, merupakan penyakit panas akut yang
ditandai dengan panas 2-7 hari disertai 2 atau lebih gejala berikut :
a.
sakit
kepala,
b.
nyeri
belakang mata,
c.
nyeri
pada otot dan atau sendi,
d.
ruam,
e.
manifestasi
perdarahan baik dengan tes provokasi menggunakan torniquet tensimeter atau
timbul spontan berupa bintik-bintik/bercak perdarahan di kulit yang berwarna
merah keunguan dan biasanya tidak hilang dengan penekanan,
f.
hasil
laboratorium menunjukkan leukopenia (jumlah sel darah putih yang kurang dari
normal).
Tipe
panas dengue fever juga khas, yaitu
tipe panas “punuk onta” (saddle back
fever), yaitu panas tinggi beberapa hari, lalu turun dalam beberapa hari
kemudian naik lagi.
2.
Dengue Haemorrhagik Fever atau demam berdarah dengue merupakan demam dengue
yang disertai dengan gejala/tanda berikut:
a.
perdarahan
yang nyata, yang bisa berupa hasil tes torniquet yang positif; bintik-bintik
perdarahan di tubuh; mimisan, gusi berdarah; hingga muntah warna kehitaman
seperti kopi atau berak seperti petis yang merupakan tanda perdarahan saluran
cerna bagian atas,
b.
hasil
laboratorium menunjukkan trombositopenia (jumlah trombosit yang kurang dari
normal),
c.
kebocoran
plasma darah yang ditandai dengan hasil lab PCV meningkat lebih dari 20%,
penimbunan cairan di rongga perut (ascites)
atau di rongga paru (efusi pleura),
atau tanda-tanda syok.
WHO,
organisasi kesehatan dunia, menyebutkan bahwa pada demam berdarah dengue tahap
awal bisa disertai dengan gejala-gejala yang lain misalnya gejala saluran nafas
(batuk, pilek) atau saluran pencernaan (mual, muntah, sakit perut, diare). Hal
inilah yang menyebabkan demam berdarah dengue sering dikira penyakit flu/diare
biasa mengingat gejala hampir sama dengan penyakit yang lain.
3. Dengue
Shock Syndrome (DDS) merupakan demam berdarah dengue yang
disertai dengan:
a.
gejala-gejala
syok yaitu nadi cepat dan kecil,
b.
ujung-ujung
tangan dan kaki dingin,
c.
tekanan
darah turun atau hilangnya kesadaran dari si sakit.
Pada
kondisi ini biasanya si sakit tidak panas sebagaimana gejala sebelumnya. DSS
ini sering terjadi pada hari ke-4 hingga ke-7 periode sakit. Bentuk penyakit
inilah yang paling sering menyebabkan kematian.
Berdasarkan ciri-ciri di
atas, saya didiagnosis menderita demam dengue. Tanda-tanda yang saya alami
yaitu demam tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri sendi, tidak
nafsu makan, dan disertai pula mual dan nyeri perut. Gejala tersebut saya rasakan pada hari Minggu-Rabu, 23-26
Desember 2012. Saat itu, saya sedang mudik di Puring (tidak sedang di
Yogyakarta). Ibu saya mengira gejala
tersebut adalah penyakit flu biasa. Tradisi di daerah kami, jika terkena
flu/masuk angin biasanya “kerokan”, yaitu menggosok punggung, tangan, atau
bagian tubuh yang terasa pegal dengan uang koin dan minyak gosok sampai kulit
berwarna merah. Saya sampai 2 kali dikeroki, dipijat dan diolesi parutan jahe agar
lekas sembuh, bahkan saya sudah minum obat juga.
Kamis, 27 Desember 2012 saya
sudah merasa baikan. Oleh karena itu, hari Jumat, 28 Desember 2012 saya kembali
ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ada hal aneh yang saya rasakan, yaitu
“cekit-cekit” seperti gatal/kesemutan pada tangan dan kaki. Selanjutnya, timbul bintik-bintik/bercak
perdarahan di kulit yang berwarna merah keunguan pada bagian kaki. Berdasarkan
pengalaman menderita DB saat S1, saya curiga bahwa tanda-tanda yang saya alami
tersebut juga merupakan tanda-tanda DB. Kecemasan saya mulai muncul. Tanggal 2
Januari saya akan UAS, sebentar lagi juga akan membayar SPP sebesar 7,5 juta. Jika
saya terkena DB dan harus dirawat di RS lalu bagaimanakah nasib S2 saya? Untuk
membayar SPP saja saya dan keluarga bingung akan menjual apa? Permohonan
beasiswa S2 saya belum lolos, tunjangan anak dari gaji pensiunan bapak juga
sudah tidak ada, tanaman padi di sawah belum masanya dipanen, uang tabungan pun
banyaknya tidak berapa. Saya benar-benar bingung memikirkan hal tersebut.
Bahkan sempat terpikir, mungkinkah setelah semester 1 saya kuliah di S2, saya
harus berhenti dulu, cuti kuliah, kemudian
sementara waktu saya bekerja untuk mengumpulkan biaya guna melanjutkan kuliah
S2?
Selanjutnya, Sabtu pagi, 29 Desember
2012, saya beranikan cek darah di RS Condong Catur Yogyakarta untuk memastikan
apakah benar saya terkena DB. Diagnosis dokter adalah saya sakit thypus, kemudian setelah dicek darah,
hasilnya adalah saya sakit DB dan thypus,
tetapi lebih dominan DBnya. Trombosit saya saat itu adalah 102.000/mm3
darah. Berdasarkan informasi dari bagian laboratorium RS Condong Catur
Yogyakarta, jumlah trombosit dalam darah normalnya 150.000 – 450.000/mm3
darah.
Riswanto (2009) mengatakan
bahwa apabila jumlah trombosit antara 100.000 – 150.000/mm3 darah
maka dikatakan trombositopenia ringan. Apabila jumlah trombosit kurang dari 60.000/mm3
darah maka akan cenderung terjadi perdarahan. Jika jumlah trombosit di atas
40.000/mm3 darah biasanya tidak terjadi perdarahan spontan, tetapi
dapat terjadi perdarahan setelah trauma. Jika terjadi perdarahan spontan
kemungkinan fungsi trombosit terganggu atau ada gangguan pembekuan darah. Apabila
jumlah trombosit kurang dari 40.000/mm3 darah, biasanya terjadi
perdarahan spontan dan apabila jumlahnya kurang dari 10.000/mm3 darah,
perdarahan akan lebih berat. Dilihat dari segi klinik, penurunan jumlah
trombosit lebih memerlukan perhatian daripada kenaikannya (trombositosis)
karena adanya resiko perdarahan.
Berdasarkan keterangan di
atas, saya termasuk pada kelompok trombositopenia ringan. Namun, dokter langsung
menyarankan saya untuk langsung rawat inap karena dikhawatirkan kondisi saya
akan semakin memburuk. Sesuatu yang saya takutkan justru benar-benar terjadi,
yaitu saya kembali terkena DB dan harus dirawat di RS. Saya segera menghubungi
keluarga dan menceritakan bagaimana kondisi saya. Akhirnya, keluarga sepakat
bahwa saya harus pulang. Sorenya saya
pulang dan langsung menuju RS PKU Muhammadiyah Gombong, sampai di sana pukul
21.30 WIB. Setelah pemeriksaan di IGD,
akhirnya mulai malam itu, saya menjalani
rawat inap.
C.
Pemeriksaan untuk
mendeteksi DB
Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mendeteksi DB dapat dilihat dari gejalanya,
dari uji torniquet dengan tensimeter untuk melihat ada tidaknya bintik-bintik
berwarna merah keunguan di bawah kulit, dan uji komponen darah untuk melihat
jumlah trombosit dalam darah. Selain
itu, pihak RS PKU Muhammadiyah Gombong ternyata melakukan pemeriksaan IgM dan
IgG anti dengue, yaitu untuk mendeteksi zat kebal tubuh yang timbul akibat
infeksi dengue. Agung Prasetyo Wibowo (2012) mengatakan bahwa pemeriksaan IgM
dan IgG anti dengue ini memiliki keunggulan dibanding pemeriksaan darah biasa,
yaitu lebih sensitif dan spesifik, artinya dapat mengetahui infeksi dengue pada
awal-awal panas. Sedangkan pada pemeriksaan
darah biasa, meskipun dapat dilakukan dengan cepat dan harganya murah tetapi
kekurangan pemeriksaan ini biasanya baru dapat mendeteksi kasus DBD setelah
hari ke-3 atau ke-4 panas. Jarang memberikan hasil positif pada hari-hari awal
panas. Kerugian pemeriksaan
IgM dan IgG adalah harganya yang mahal.
IgM akan tidak terdeteksi antara 30-90 hari setelah
infeksi, sedangkan IgG dapat tetap terdeteksi seumur hidup. IgM yang positif
memiliki nilai diagnostik bila disertai dengan gejala yang mendukung terjadinya
demam berdarah. Pemeriksaan IgG dan IgM ini juga bisa digunakan untuk
membedakan infeksi dengue primer atau sekunder. Dengue primer terjadi pada
pasien tanpa riwayat terkena infeksi dengue sebelumnya.
Sedangkan dengue sekunder terjadi pada pasien dengan riwayat infeksi virus dengue
sebelumnya. Berikut akan disajikan empat kondisi yang mungkin terjadi dari
hasil pemeriksaan IgM dan IgG.
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan IgM dan IgG
(anonim, 2012)
Kondisi pertama menjelaskan bahwa pasien saat ini mengidap DB dan sebelumnya
juga sudah pernah mengidap DB. Kondisi kedua menjelaskan bahwa pasien saat ini mengidap DB untuk yang
pertama kalinya. Kondisi ketiga menjelaskan bahwa pasien sudah pernah mengidap
DB tetapi bukan saat ini. Sedangkan kondisi keempat menjelaskan bahwa pasien bukan
mengidap demam berdarah dan belum pernah mengidap demam berdarah atau mungkin
mengidap demam berdarah baru pertama kali tetapi pemeriksaannya masih terlalu
dini sehingga perlu diperiksa ulang setelah 4-7 hari.
Hasil pemeriksaan IgG dan
IgM saya adalah IgG (+) dan IgM (-). Itu
artinya saya sudah pernah mengidap DB tetapi bukan saat ini. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa IgM akan
tidak terdeteksi antara 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat tetap
terdeteksi seumur hidup. Hal tersebut bearti mungkin saja saya terinfeksi virus
dengue 30-90 hari yang lalu. Karena kondisi pertahanan tubuh saya saat
terinfeksi virus dengue dalam keadaan baik maka infeksi itu tidak langsung
berpengaruh. Tetapi jejak-jejaknya masih
meninggalkan sisa seperti gejala yang saat ini saya rasakan.
D. Cara
penanganan DB
Menurut Agung Prasetyo
Wibowo (2012), apabila seseorang diperkirakan hanya menderita demam dengue dan
belum dapat dipastikan menderita demam berdarah dengue, pengobatannya biasanya
dengan istirahat (bed rest),
pemberian obat penurun panas tanpa perlu antibiotik, makan disesuaikan nafsu
makannya (tidak harus bubur), serta minum yang cukup. Hanya penderita yang
mengalami panas yang sangat tinggi dan tidak bisa minum (misal karena muntah
terus) yang perlu opname karena cairan diberikan melalui infus. Bila si sakit
ini tidak opname/rawat inap, maka dia perlu kembali berobat bila ada
tanda-tanda :
1.
nyeri
pada perut, atau
2.
tanda-tanda
perdarahan pada kulit baik berupa bintik-bintik atau bercak merah keunguan,
atau
3.
tanda-tanda
perdarahan yang lain misal mimisan, gusi berdarah, muntah kehitaman atau berak
seperti petis, atau
4.
si
sakit tampak loyo, lemas, dan pada perabaan terasa dingin terutama di kedua
tangan dan kaki.
Gejala-gejala di atas dapat
merupakan gejala dari demam berdarah dengue. Bila setelah diperiksa
laboratorium dipastikan si sakit menderita DBD, maka pengobatan selanjutnya
adalah pemberian cairan infus sesuai dengan kondisinya saat itu. Pemberian
cairan infus ini dilakukan untuk mengimbangi kebocoran plasma yang terjadi pada
DBD. Bahkan pada penderita-penderita yang mengalami perdarahan dapat diberikan
transfusi darah.
Seperti telah dibahas
sebelumnya bahwa saya akhirnya menjalani rawat inap karena sudah diketahui
trombosit rendah, ada komplikasi thypus,
dan tanda-tanda perdarahan pada kulit berupa bintik-bintik atau bercak merah
keunguan di kaki. Perawatan yang saya dapatkan dari RS adalah diberi
cairan infus, minuman yang mengandung sari jambu biji dan elektrolit,
serta obat-obatan lain yang diperlukan seperti obat nyeri lambung karena saya
ada komplikasi sakit thypus.
E. Penyakit
apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB
Berdasarkan keterangan salah
satu dokter spesialis dalam dari RS PKU Muhammadiyah Gombong, komplikasi antara
DB dan thypus akan mempengaruhi
ketidakstabilan fungsi hati. Hal ini dibuktikan dari hasil pemeriksaan SGOT/SGPT
yang tinggi. SGOT (Serum Glutamic
Oxaloacetic Transaminase) SGOT merupakan enzim hati yang terdapat di dalam
sel parenkim hati. SGOT akan meningkat kadarnya di dalam darah jika terdapat
kerusakan sel hati. Namun SGOT tidak spesifik hanya terdapat di dalam hati.
SGOT juga dapat ditemukan di sel darah, sel jantung dan sel otot, karena itu
peningkatan SGOT tidak selalu menunjukkan adanya kelainan di sel hati. Sedangkan
SGPT (Serum Glutamic Pyruvate
Transaminase) merupakan suatu enzim
yang terdapat di dalam sel hati. Ketika sel hati mengalami kerusakan maka akan
terjadi pengeluaran enzim SGPT dari dalam sel hati ke sirkulasi darah dan akan
terukur melalui pemeriksaan laboratorium (Tim Redaksi Klikdokter). Jadi
intinya, SGPT lebih valid mengukur baik atau tidaknya kesehatan hati seseorang
dibandingkan SGOT.
Nilai normal pemeriksaan SGOT
berdasarkan informasi dari laboratorium RS PKU Muhammadiyah Gombong adalah
0,0-40,0 unit/liter darah. Sedangkan nilai normal pemeriksaan SGPTnya adalah
0,0-41,0 unit/liter darah. Hasil pemeriksaan SGOT/SGPT saya di awal pemeriksaan
adalah 95/100 unit per liter darah, selanjutnya meningkat lagi menjadi 100/107
unit per liter darah, mengarah pada penyakit hepatitis A. Betapa kagetnya saya
mengetahui hasil tersebut. Jujur, saya masih cukup asing dengan penyakit
hepatitis dan berpikir bahwa penyakit itu adalah penyakit yang mengerikan. Tingginya
hasil pemeriksaan SGOT/SGPT inilah yang membuat saya cukup lama berada di RS,
padahal jumlah trombosit sudah cukup baik.
Untuk menurunkan hasil
pemeriksaan SGOT/SGPT, saya diberi 2 macam vitamin hati (berbentuk tablet,
salah satunya adalah tablet yang berasal dari sari kunyit), vitamin hati
(berbentuk cairan berwarna kuning yang dimasukkan ke dalam cairan infus), ada
juga jenis infus khusus yang diberikan untuk menurunkan hasil pemeriksaan SGOT/SGPT.
Ukuran botolnya lebih kecil dari pada ukuran botol infus yang biasanya. Ada
pula antibiotik pekat yang beberapa kali disuntikkan lewat infus. Selain itu, saya juga harus menjalani diet
rendah lemak. Berdasarkan hasil konsultasi dengan ahli gizi RS PKU Muhammadiyah
Gombong maka dapat diketahui bahan makanan yang dianjurkan untuk menurunkan
hasil pemeriksaan SGOT/SGPT adalah makanan yang mengandung hidrat arang tinggi
dan mudah dicerna seperti gula, selai, sirup, madu, dan manisan. Sedangkan
bahan makanan yang harus dihindari adalah:
1.
Sumber
lemak yaitu semua makanan yang digoreng, semua makanan tinggi lemak seperti
mayonais, margarin/ mentega.
2.
Bahan
makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, singkong, kacang merah, kol, sawi,
caysin, lobak, durian, nangka, ketimun, santan kental.
3.
Bumbu-bumbu
yang merangsang seperti cabe, bawang putih, merica, asam, cuka, jahe.
4.
Sumber
protein seperti kuning telur, otak, hati, jeroan, makanan kaleng, daging tinggi
lemak seperti kambing.
5.
Minuman
seperti susu berlemak (susu kental manis), minuman bersoda, dan alkohol.
Setelah menerima berbagai
macam perawatan dan diet rendah lemak barulah pada hari ke-6 selama di RS,
akhirnya saya diperbolehkan pulang walaupun sebenarnya hasil SGOT/SGPT masih
agak tinggi yaitu 61/88 unit per liter darah. Itupun karena pada hari ke-5,
saya minta agar diizinkan pulang, tetapi sayangnya belum diizinkan oleh dokter.
Selanjutnya, hari Senin tanggal 7 Januari 2012, saya diminta untuk checkup guna mengetahui apakah fungsi
hati saya sudah kembali normal.
F. Bagaimana
cara pencegahan DB
Karena bahaya yang
disebabkan oleh penyakit DB cukup serius dan bahkan dapat menimbulkan kematian
maka alangkah baiknya jika kita mengetahui bagaimana cara pencegahan DB. Cara
mencegah demam DB yang efektif adalah pengendalian vektor penyakit yaitu nyamuk
Aedes dengan jalan berikut (Agung
Prasetyo Wibowo, 2012):
1.
Fogging,
atau pengasapan insektisida. Cara ini memiliki kekurangan karena hanya dapat
memberantas nyamuk dewasa, bukan larva; hanya memiliki jangkauan 100-200 m dari
pusat pengasapan; serta adanya kecenderungan nyamuk mengalami kekebalan
terhadap insektisida.
2.
Pencegahan
gigitan nyamuk dengan menggunakan selambu, atau obat-obat yang dioleskan ke
kulit. Beberapa tanaman seperti zodia, geranium, dan lavender ternyata
disebutkan dapat mencegah gigitan nyamuk.
3.
Pemberian
obat-obatan pembasmi larva, seperti abate pada tempat penampungan air.
4. Pemberantasan sarang nyamuk, seperti yang telah
dicanangkan oleh pemerintah melalui program 3 M: menguras bak air, menutup
tempat yang mungkin menjadi sarang berkembang biak nyamuk, mengubur
barang-barang bekas yang bisa menampung air. Cara ini menurut beberapa
penelitian adalah cara yang paling efektif, namun paling sulit untuk dilakukan
karena membutuhkan peran serta seluruh masyarakat.
Saya menyadari bahwa sakit
yang saya alami mungkin salah satunya disebabkan kotornya lingkungan kos karena
piket kos sudah tidak jalan lagi. Kegiatan bersih-bersih kos hanya dilakukan
oleh beberapa anggota kos secara suka rela dan sesempatnya. Lingkungan tersebut
tentunya menjadi sarang bagi nyamuk yang dapat menularkan penyakit DB. Kadang sampah menumpuk sampai penuh di tempat
sampah tidak segera dibuang, bak mandi
sampe kotor tidak segera dikuras, lantai kotor tidak segera disapu, ditambah
lagi letak kos saya di dekat kebon/pekarangan. Jika tidak di lingkungan kos,
mungkin saya digigit nyamuk Aedes di
lingkungan kampus, atau di lingkungan lainnya. Mengingat saat ini adalah musim
hujan maka kita harus waspada karena komunitas nyamuk pada musim hujan
berkembang pesat.
G. Hikmah
yang dapat diambil dari sakit DB
Dalam melakukan kegiatan
sehari-hari, salah satu kunci pentingnya adalah sehat. Jika kita sehat, kita
dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik dan optimal. Namun sebaliknya,
jika kita sakit, pasti semua kegiatan rutin yang biasa kita lakukan sehari-hari
akan terganggu dan bahkan terhenti, padahal betapa pentingnya kegiatan
sehari-hari tersebut untuk menata rencana masa depan kita.
Seperti halnya saya, sakit
DB ini membuat saya tiga kali tidak masuk kuliah tambahan, tiga hari tidak
mengikuti UAS pada minggu pertama, dan bahkan ketika saya berniat untuk kembali
ke Yogyakarta untuk mengikuti UAS pada minggu ke-2, dokter belum mengizinkan
dan justru beliau menyarankan saya untuk istirahat selama 6 hari lagi di
rumah. Tugas-tugas kuliah di akhir
semester seperti tugas membuat instrumen pembelajaran matematika dan membuat proposal
tesis juga terhambat. Tugas membuat makalah Filsafat Ilmu pun selesai di akhir
waktu yang ditentukan. Kuliah S2 ini menjadi terganggu gara-gara sakit. Pada
hal betapa berharganya S2 ini bagi masa depan saya. Andaikan saya sehat, saya
tidak harus membolos kuliah sampai tiga kali berturut-turut, proses
penyelesaian tugas akhir semester juga tidak terganggu, dapat mengikuti UAS
dari awal sampai akhir, dan juga dapat belajar kelompok dengan teman-teman
kelas ketika mempersiapkan UAS, dsb.
Saya menyadari bahwa selama
di kos, pola makan saya kurang teratur. Kadang benar-benar sampai telat
sehingga menyebabkan nyeri lambung. Terkadang juga mengkonsumsi makanan cepat
saji seperti mie yang tidak baik untuk kesehatan lambung. Saya juga sering
lembur malam, dan supaya tidak ngantuk, saya mengkonsumsi kopi. Benar-benar pola hidup yang kurang sehat. Oleh
karena itu, kita harus bisa mengimbangi antara rutinitas sehari-hari dengan
tidak melupakan kesehatan tubuh kita juga.
Kesehatan merupakan salah satu
nikmat yang sangat luar biasa mahalnya. Untuk tetap sehat, kita harus benar-benar
menjaga kesehatan kita dengan mengkonsumsi suplemen, makan dan minum teratur,
istirahat yang teratur, dan selalu menjaga kebersihan. Ada sebagian yang mengatakan untuk menjaga
kesehatan itu mahal harganya, tetapi sebenarnya ketika sakit, biaya yang dikeluarkan justru lebih banyak dan lebih mahal,contohnya,
untuk berobat ke dokter dan membeli obatnya. Begitu juga yang saya rasakan.
Enam hari opname di RS, biayanya yang keluar hampir mencapai 6 juta, itu saja belum
termasuk biaya untuk membeli makanan untuk orang yang turut menjaga saya, atau makanan bagi orang yang menjenguk, serta membeli berbagai peralatan
yang mendadak diperlukan selama rawat inap di RS. Belum lagi biaya untuk
membayar ongkos checkup, dll. Jika
saya sehat, seharusnya uang itu bisa digunakan untuk membayar SPP, membayar
kost, atau kebutuhan lainnya, bukan untuk biaya berobat karena sakit.
Tidak ada orang yang
menginginkan sakit, begitu juga saya. Betapapun demikian tetapi jika Allah menghendaki
kita sakit, tentu kita tidak dapat menolaknya. Hendaknya kita mencari makna
dibalik sakit yang kita alami. Kondisi sakit dapat membuat kita semakin dekat
dengan Sang Pencipta. Selain itu juga dapat membuat kita menjadi lebih
berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Dengan sakit, kita pun menjadi mengerti
betapa orang lain perhatian dengan kita, menjenguk, mendoakan, memberi
semangat, dan memberikan bantuan sesuai dengan yang diperlukan. Betapa hal itu
tidak selalu dapat diperoleh ketika kita sehat. Bahkan teman-teman 1 kelas sampai mengadakan
doa bersama untuk kesembuhan saya.
Sakit merupakan ujian dari
Allah untuk mengetahui seberapa besar kesabaran dan ketabahan kita. Selanjutnya,
sakit juga dapat menjadi pelebur dosa kita di masa lalu. Seperti Hadist Riwayat
Bukhari-Muslim yang mengatakan bahwa: Setiap orang pasti pernah mengalami
sakit. Rasulullah SAW sendiri mengalami sakit . Walau begitu, Nabi tetap sabar
dan tabah. Beliau mengatakan kepada Ibnu Mas’ud r.a. bahwa penyakit yang datang
ke dalam tubuh seorang Muslim itu dapat menggugurkan dosa sebagaimana pohon
yang menggugurkan daunnya.
Pada waktu lain, Rasulullah
menjenguk Salman al-Fahrisi yang tengah berbaring sakit. Rasulullah bersabda.
“Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu dikala sakit. Engkau
sedang mendapat peringatan dari Allah SWT, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit
yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu.”
Rasulullah pun melarang
untuk mencela penyakit. Ketika Ummu Saib sakit demam dan mencela penyakit yang
menimpanya, Nabi bersabda. “Janganlah kamu mencela demam. Karena sesungguhnya
demam itu menikis kesalahan anak cucu Adam sebagaimana bara api mengikis
keburukan besi” (HR. Muslim).
Ya Allah, ampunkanlah kami yang baru merasakan nikmatnya
hidup sehat ketika kami sakit. Ya Allah, betapa kami kurang dapat mensyukuri
begitu banyaknya kenikmatan yang Engaku
berikan kepada kami saat kami sehat. Ya Allah, betapa kami harus menjaga
kesehatan tubuh kami ini sebagai rasa syukur akan nikmat-Mu. Ya Allah, betapa
sombongnya kami pada saat kami sehat. Betapa sehat itu menjadi sebuah realitas
yang sangat penting ketika kami sakit. Jadikanlah kami hamba-hambamu yang dapat
mensyukuri nikmat-Mu dan bantulah kami
agar dapat selalu menjaga kesehatan kami. Amin ya Rabbal ‘alamin.
BAB
III
KESIMPULAN
Sakit adalah sebuah fenomena alamiah yang pasti pernah
dialami oleh semua orang. Hanya saja, sakit yang dialami orang berbeda-beda
kadarnya, ada yang sakit ringan, sedang, atau parah. Fenomena ini harus diambil hikmahnya agar ada
sebuah makna dan pengalaman berharga yang akan menjadi pelajaran untuk hidup
lebih baik dikemudian hari, pasca sembuh. Setelah sembuh dari sakit, seseorang diharapkan
menjadi lebih bijak pada dirinya sendiri, lebih mendekatkan diri kepada Sang
Pencipta, mengenal orang lain lebih empatis, berjiwa besar, dan selalu mencari
makna pada setiap pengalaman dan apa yang terjadi. Pada hakekatnya, segala hal
yang telah kita alami itu “penting”, baik
senang maupun duka, semuanya adalah lembaran kisah abadi yang
berpengaruh pada kepribadian dan eksistensi kita dihadapan Allah dan dihadapan
sesama manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Agung Prasetyo Wibowo . (2012). Demam Berdarah Dengue. [Online]. Tersedia: http://dinkes.malangkota.go.id/index.php/artikel-kesehatan/160-demam-berdarah-dengue. [6 Januari 2013].
Anonim. (2012). Pemeriksaan IgG dan IgM pada Demam Berdarah
Dengue. [Online]. Tersedia: http://drdjebrut.wordpress.com/2012/01/27/pemeriksaan-igg-dan-igm-pada-demam-berdarah-dengue/. [6 Januari 2013].
Gina
Septiani. (2009). Demam Berdarah Dengue,
Masalah dan Cara Penanggulangannya. [Online]. Tersedia: http://ginaseptiani.wordpress.com/2009/04/25/demam-berdarah-dengue-masalah-dan-cara-penanggulangannya/. [6 Januari 2013].
Riswanto. ([Online].
Tersedia: http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/hitung-trombosit.html . [6 Januari 2013].
Tim Redaksi
Klikdokter. ( ).SGOT-SGPT. [Online].
Tersedia: http://m.klikdokter.com/ekonsultasi/read/17744/sgot-sgpt. [6 Januari 2013].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar