Senin, 14 Januari 2013

MENGAMBIL HIKMAH DARI COBAAN SAKIT DEMAM BERDARAH

Makalah Dibuat Dalam Rangka Melengkapi Tugas-tugas Perkuliahan Filsafat IlmuTahun Ajaran 2012/2013
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.



BAB I
PENDAHULUAN

   A.    Latar Belakang
Kesehatan adalah suatu kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia yang sangat tidak ternilai harganya. Kesehatan sangatlah berharga walaupun seringkali banyak orang yang menyepelekannya. Kalau sedang sakit, barulah orang sibuk mengobati dan sadar betapa berharganya arti kesehatan tersebut. Seperti yang saya alami, ketika sakit datang, barulah saya sadar betapa untuk kembali sehat sangatlah susah, dan merasakan bahwa kesehatan sangatlah penting artinya. Seperti kata pepatah, “lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya membudayakan hidup sehat supaya tidak sakit.  
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya setelah dua kali sakit deman berdarah (DB)  yaitu pada tahun ajaran 2007/2008 (saat UAS semester I, S1) dan tahun ajaran 2012/2013 (saat UAS semester I, S2). Agak aneh sebenarnya, sakit  DB sama-sama pada saat UAS semester I dan sama-sama harus opname di rumah sakit sampai beberapa hari. Akan tetapi, sakit DB yang ke-2 lebih parah dari pada sakit DB yang pertama. DB yang ke-2 ini ada komplikasi dengan typhus sehingga menyebabkan ketidakstabilan fungsi hati.  Oleh karena itu, sejak hari Sabtu, 29 Desember 2012 hingga Jumat 4 Januari 2013, saya harus dirawat di rumah sakit (RS). Bahkan ketika checkup pada hari Senin, 7 Januari 2012, dokter menyarankan saya untuk benar-benar istirahat di rumah  selama 6 hari lagi (terhitung dari tanggal 7-12 Januari 2012) dan beliau belum mengizinkan saya kembali ke Yogyakarta untuk mengikuti UAS dan mengerjakan aktivitas yang lainnya di sana.
   B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang:
1.    Apa yang dimaksud dengan DB?
2.    Bagaimana gejala DB?
3.    Bagaimana pemeriksaan untuk mendeteksi DB?
4.    Bagaimana cara penanganan DB?  
5.    Penyakit apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB?
6.    Bagaimana cara pencegahan DB?
7.    Apa hikmah yang dapat diambil dari sakit DB?
   C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan DB.
2.      Untuk mengetahui bagaimana gejala DB.
3.      Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan guna mendeteksi DB.
4.      Untuk mengetahui bagaimana cara penanganan DB.
5.      Untuk mengetahui penyakit apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB.
6.      Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan DB.
7.      Untuk mengambil hikmah dari sakit DB.


BAB II
ISI
   A.    Demam Berdarah (DB)
Penyakit demam berdarah atau sering dikenal dengan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Menurut Gina Septiani (2009), Virus dengue merupakan mikroorganisme yang sangat kecil dan  hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Virus hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Oleh karena itu, demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati, terutama untuk kebutuhan protein. Jika daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah maka sel jaringan orang tersebut akan semakin rusak. Sebaliknya jika daya tahan tubuh baik, maka infeksi tersebut akan sembuh secara sendirinya dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuh orang tersebut.
Lebih lanjut, Gina Septiani (2009) mengatakan bahwa penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau dapat juga oleh gigitan nyamuk Aedes albopictus . Nyamuk yang menularkan penyakit adalah nyamuk betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau binatang untuk hidup dan berkembang biak. Nyamuk betina Aedes aegypti umumnya menggigit pada pagi dan siang hari, menyenangi tempat teduh, terlindung dari sinar matahari, dan berbau manusia. Sarang nyamuk ini selain di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi bila keadaan kelas gelap dan lembab. Sedangkan nyamuk Aedes albopictus hidup di luar rumah misalnya di kebun yang rindang. Di perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya, dari kantor ke kantor lainnya, atau terbang ke tempat-tempat  umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain.
   B.     Gejala DB
Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes  albopictus sebagai mana yang telah disebutkan di atas dapat menyebabkan 3 macam demam berdarah.  Agung Prasetyo Wibowo (2012) menyebutkan 3 macam demam berdarah sebagai berikut:
1.    Dengue Fever atau demam dengue, merupakan penyakit panas akut yang ditandai dengan panas 2-7 hari disertai 2 atau lebih gejala berikut :
a.    sakit kepala,
b.    nyeri belakang mata,
c.    nyeri pada otot dan atau sendi,
d.   ruam,
e.    manifestasi perdarahan baik dengan tes provokasi menggunakan torniquet tensimeter atau timbul spontan berupa bintik-bintik/bercak perdarahan di kulit yang berwarna merah keunguan dan biasanya tidak hilang dengan penekanan,
f.     hasil laboratorium menunjukkan leukopenia (jumlah sel darah putih yang kurang dari normal).
Tipe panas dengue fever juga khas, yaitu tipe panas “punuk onta” (saddle back fever), yaitu panas tinggi beberapa hari, lalu turun dalam beberapa hari kemudian naik lagi.
2.    Dengue Haemorrhagik Fever atau demam berdarah dengue merupakan demam dengue yang disertai dengan gejala/tanda berikut:
a.    perdarahan yang nyata, yang bisa berupa hasil tes torniquet yang positif; bintik-bintik perdarahan di tubuh; mimisan, gusi berdarah; hingga muntah warna kehitaman seperti kopi atau berak seperti petis yang merupakan tanda perdarahan saluran cerna bagian atas,
b.    hasil laboratorium menunjukkan trombositopenia (jumlah trombosit yang kurang dari normal),
c.    kebocoran plasma darah yang ditandai dengan hasil lab PCV meningkat lebih dari 20%, penimbunan cairan di rongga perut (ascites) atau di rongga paru (efusi pleura), atau tanda-tanda syok.
WHO, organisasi kesehatan dunia, menyebutkan bahwa pada demam berdarah dengue tahap awal bisa disertai dengan gejala-gejala yang lain misalnya gejala saluran nafas (batuk, pilek) atau saluran pencernaan (mual, muntah, sakit perut, diare). Hal inilah yang menyebabkan demam berdarah dengue sering dikira penyakit flu/diare biasa mengingat gejala hampir sama dengan penyakit yang lain.
3.    Dengue Shock Syndrome (DDS) merupakan demam berdarah dengue yang disertai dengan:
a.       gejala-gejala syok yaitu nadi cepat dan kecil,
b.      ujung-ujung tangan dan kaki dingin,
c.       tekanan darah turun atau hilangnya kesadaran dari si sakit.
Pada kondisi ini biasanya si sakit tidak panas sebagaimana gejala sebelumnya. DSS ini sering terjadi pada hari ke-4 hingga ke-7 periode sakit. Bentuk penyakit inilah yang paling sering menyebabkan kematian.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, saya didiagnosis menderita demam dengue. Tanda-tanda yang saya alami yaitu demam tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri sendi, tidak nafsu makan, dan disertai pula mual dan nyeri perut.  Gejala tersebut  saya rasakan pada hari Minggu-Rabu, 23-26 Desember 2012. Saat itu, saya sedang mudik di Puring (tidak sedang di Yogyakarta).  Ibu saya mengira gejala tersebut adalah penyakit flu biasa. Tradisi di daerah kami, jika terkena flu/masuk angin biasanya “kerokan”, yaitu menggosok punggung, tangan, atau bagian tubuh yang terasa pegal dengan uang koin dan minyak gosok sampai kulit berwarna merah. Saya sampai 2 kali dikeroki, dipijat dan diolesi parutan jahe agar lekas sembuh, bahkan saya sudah minum obat juga.
Kamis, 27 Desember 2012 saya sudah merasa baikan. Oleh karena itu, hari Jumat, 28 Desember 2012 saya kembali ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ada hal aneh yang saya rasakan, yaitu “cekit-cekit” seperti gatal/kesemutan pada tangan dan kaki.  Selanjutnya, timbul bintik-bintik/bercak perdarahan di kulit yang berwarna merah keunguan pada bagian kaki. Berdasarkan pengalaman menderita DB saat S1, saya curiga bahwa tanda-tanda yang saya alami tersebut juga merupakan tanda-tanda DB. Kecemasan saya mulai muncul. Tanggal 2 Januari saya akan UAS, sebentar lagi juga akan membayar SPP sebesar 7,5 juta. Jika saya terkena DB dan harus dirawat di RS lalu bagaimanakah nasib S2 saya? Untuk membayar SPP saja saya dan keluarga bingung akan menjual apa? Permohonan beasiswa S2 saya belum lolos, tunjangan anak dari gaji pensiunan bapak juga sudah tidak ada, tanaman padi di sawah belum masanya dipanen, uang tabungan pun banyaknya tidak berapa. Saya benar-benar bingung memikirkan hal tersebut. Bahkan sempat terpikir, mungkinkah setelah semester 1 saya kuliah di S2, saya harus berhenti dulu, cuti kuliah,  kemudian sementara waktu saya bekerja untuk mengumpulkan biaya guna melanjutkan kuliah S2?
Selanjutnya, Sabtu pagi, 29 Desember 2012, saya beranikan cek darah di RS Condong Catur Yogyakarta untuk memastikan apakah benar saya terkena DB. Diagnosis dokter adalah saya sakit thypus, kemudian setelah dicek darah, hasilnya adalah saya sakit DB dan thypus, tetapi lebih dominan DBnya. Trombosit saya saat itu adalah 102.000/mm3 darah. Berdasarkan informasi dari bagian laboratorium RS Condong Catur Yogyakarta, jumlah trombosit dalam darah normalnya 150.000 – 450.000/mm3 darah.
Riswanto (2009) mengatakan bahwa apabila jumlah trombosit antara 100.000 – 150.000/mm3 darah maka dikatakan trombositopenia ringan. Apabila jumlah trombosit kurang dari 60.000/mm3 darah maka akan cenderung terjadi perdarahan. Jika jumlah trombosit di atas 40.000/mm3 darah biasanya tidak terjadi perdarahan spontan, tetapi dapat terjadi perdarahan setelah trauma. Jika terjadi perdarahan spontan kemungkinan fungsi trombosit terganggu atau ada gangguan pembekuan darah. Apabila jumlah trombosit kurang dari 40.000/mm3 darah, biasanya terjadi perdarahan spontan dan apabila jumlahnya kurang dari 10.000/mm3 darah, perdarahan akan lebih berat. Dilihat dari segi klinik, penurunan jumlah trombosit lebih memerlukan perhatian daripada kenaikannya (trombositosis) karena adanya resiko perdarahan.    
Berdasarkan keterangan di atas, saya termasuk pada kelompok trombositopenia ringan. Namun, dokter langsung menyarankan saya untuk langsung rawat inap karena dikhawatirkan kondisi saya akan semakin memburuk. Sesuatu yang saya takutkan justru benar-benar terjadi, yaitu saya kembali terkena DB dan harus dirawat di RS. Saya segera menghubungi keluarga dan menceritakan bagaimana kondisi saya. Akhirnya, keluarga sepakat bahwa saya harus pulang.  Sorenya saya pulang dan langsung menuju RS PKU Muhammadiyah Gombong, sampai di sana pukul 21.30 WIB.  Setelah pemeriksaan di IGD, akhirnya mulai malam itu, saya  menjalani rawat inap.
   C.     Pemeriksaan untuk mendeteksi DB
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mendeteksi DB dapat dilihat dari gejalanya, dari uji torniquet dengan tensimeter untuk melihat ada tidaknya bintik-bintik berwarna merah keunguan di bawah kulit, dan uji komponen darah untuk melihat jumlah trombosit dalam darah.  Selain itu, pihak RS PKU Muhammadiyah Gombong ternyata melakukan pemeriksaan IgM dan IgG anti dengue, yaitu untuk mendeteksi zat kebal tubuh yang timbul akibat infeksi dengue. Agung Prasetyo Wibowo (2012) mengatakan bahwa pemeriksaan IgM dan IgG anti dengue ini memiliki keunggulan dibanding pemeriksaan darah biasa, yaitu lebih sensitif dan spesifik, artinya dapat mengetahui infeksi dengue pada awal-awal panas. Sedangkan pada pemeriksaan darah biasa, meskipun dapat dilakukan dengan cepat dan harganya murah tetapi kekurangan pemeriksaan ini biasanya baru dapat mendeteksi kasus DBD setelah hari ke-3 atau ke-4 panas. Jarang memberikan hasil positif pada hari-hari awal panas. Kerugian pemeriksaan IgM dan IgG adalah harganya yang mahal.
IgM akan tidak terdeteksi antara 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat tetap terdeteksi seumur hidup. IgM yang positif memiliki nilai diagnostik bila disertai dengan gejala yang mendukung terjadinya demam berdarah. Pemeriksaan IgG dan IgM ini juga bisa digunakan untuk membedakan infeksi dengue primer atau sekunder. Dengue primer terjadi pada pasien tanpa riwayat terkena infeksi dengue sebelumnya. Sedangkan dengue sekunder terjadi pada pasien dengan riwayat infeksi virus dengue sebelumnya. Berikut akan disajikan empat kondisi yang mungkin terjadi dari hasil pemeriksaan IgM dan IgG.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan IgM dan IgG
(anonim, 2012)

Kondisi pertama menjelaskan bahwa  pasien saat ini mengidap DB dan sebelumnya juga sudah pernah mengidap DB. Kondisi kedua menjelaskan bahwa  pasien saat ini mengidap DB untuk yang pertama kalinya. Kondisi ketiga menjelaskan bahwa pasien sudah pernah mengidap DB tetapi bukan saat ini. Sedangkan kondisi keempat menjelaskan bahwa pasien bukan mengidap demam berdarah dan belum pernah mengidap demam berdarah atau mungkin mengidap demam berdarah baru pertama kali tetapi pemeriksaannya masih terlalu dini sehingga perlu diperiksa ulang setelah 4-7 hari.
Hasil pemeriksaan IgG dan IgM saya adalah IgG (+)  dan IgM (-). Itu artinya saya sudah pernah mengidap DB tetapi bukan saat ini.  Berdasarkan penjelasan di atas bahwa IgM akan tidak terdeteksi antara 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat tetap terdeteksi seumur hidup. Hal tersebut bearti mungkin saja saya terinfeksi virus dengue 30-90 hari yang lalu. Karena kondisi pertahanan tubuh saya saat terinfeksi virus dengue dalam keadaan baik maka infeksi itu tidak langsung berpengaruh.  Tetapi jejak-jejaknya masih meninggalkan sisa seperti gejala yang saat ini saya rasakan.
   D.    Cara penanganan DB
Menurut Agung Prasetyo Wibowo (2012), apabila seseorang diperkirakan hanya menderita demam dengue dan belum dapat dipastikan menderita demam berdarah dengue, pengobatannya biasanya dengan istirahat (bed rest), pemberian obat penurun panas tanpa perlu antibiotik, makan disesuaikan nafsu makannya (tidak harus bubur), serta minum yang cukup. Hanya penderita yang mengalami panas yang sangat tinggi dan tidak bisa minum (misal karena muntah terus) yang perlu opname karena cairan diberikan melalui infus. Bila si sakit ini tidak opname/rawat inap, maka dia perlu kembali berobat bila ada tanda-tanda :
1.      nyeri pada perut, atau
2.      tanda-tanda perdarahan pada kulit baik berupa bintik-bintik atau bercak merah keunguan, atau
3.      tanda-tanda perdarahan yang lain misal mimisan, gusi berdarah, muntah kehitaman atau berak seperti petis, atau
4.      si sakit tampak loyo, lemas, dan pada perabaan terasa dingin terutama di kedua tangan dan kaki.
Gejala-gejala di atas dapat merupakan gejala dari demam berdarah dengue. Bila setelah diperiksa laboratorium dipastikan si sakit menderita DBD, maka pengobatan selanjutnya adalah pemberian cairan infus sesuai dengan kondisinya saat itu. Pemberian cairan infus ini dilakukan untuk mengimbangi kebocoran plasma yang terjadi pada DBD. Bahkan pada penderita-penderita yang mengalami perdarahan dapat diberikan transfusi darah.
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa saya akhirnya menjalani rawat inap karena sudah diketahui trombosit rendah, ada komplikasi thypus, dan tanda-tanda perdarahan pada kulit berupa bintik-bintik atau bercak merah keunguan di kaki. Perawatan yang saya dapatkan dari RS adalah diberi cairan  infus, minuman yang  mengandung sari jambu biji dan elektrolit, serta obat-obatan lain yang diperlukan seperti obat nyeri lambung karena saya ada komplikasi sakit thypus.
   E.     Penyakit apa yang ditimbulkan akibat pengaruh DB
Berdasarkan keterangan salah satu dokter spesialis dalam dari RS PKU Muhammadiyah Gombong, komplikasi antara DB dan thypus akan mempengaruhi ketidakstabilan fungsi hati. Hal ini dibuktikan dari hasil pemeriksaan SGOT/SGPT yang tinggi. SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) SGOT merupakan enzim hati yang terdapat di dalam sel parenkim hati. SGOT akan meningkat kadarnya di dalam darah jika terdapat kerusakan sel hati. Namun SGOT tidak spesifik hanya terdapat di dalam hati. SGOT juga dapat ditemukan di sel darah, sel jantung dan sel otot, karena itu peningkatan SGOT tidak selalu menunjukkan adanya kelainan di sel hati. Sedangkan SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase) merupakan  suatu enzim yang terdapat di dalam sel hati. Ketika sel hati mengalami kerusakan maka akan terjadi pengeluaran enzim SGPT dari dalam sel hati ke sirkulasi darah dan akan terukur melalui pemeriksaan laboratorium (Tim Redaksi Klikdokter). Jadi intinya, SGPT lebih valid mengukur baik atau tidaknya kesehatan hati seseorang dibandingkan SGOT.
Nilai normal pemeriksaan SGOT berdasarkan informasi dari laboratorium RS PKU Muhammadiyah Gombong adalah 0,0-40,0 unit/liter darah. Sedangkan nilai normal pemeriksaan SGPTnya adalah 0,0-41,0 unit/liter darah. Hasil pemeriksaan SGOT/SGPT saya di awal pemeriksaan adalah 95/100 unit per liter darah, selanjutnya meningkat lagi menjadi 100/107 unit per liter darah, mengarah pada penyakit hepatitis A. Betapa kagetnya saya mengetahui hasil tersebut. Jujur, saya masih cukup asing dengan penyakit hepatitis dan berpikir bahwa penyakit itu adalah penyakit yang mengerikan. Tingginya hasil pemeriksaan SGOT/SGPT inilah yang membuat saya cukup lama berada di RS, padahal jumlah trombosit sudah cukup baik.
Untuk menurunkan hasil pemeriksaan SGOT/SGPT, saya diberi 2 macam vitamin hati (berbentuk tablet, salah satunya adalah tablet yang berasal dari sari kunyit), vitamin hati (berbentuk cairan berwarna kuning yang dimasukkan ke dalam cairan infus), ada juga jenis infus khusus yang diberikan untuk menurunkan hasil pemeriksaan SGOT/SGPT. Ukuran botolnya lebih kecil dari pada ukuran botol infus yang biasanya. Ada pula antibiotik pekat yang beberapa kali disuntikkan lewat infus.  Selain itu, saya juga harus menjalani diet rendah lemak. Berdasarkan hasil konsultasi dengan ahli gizi RS PKU Muhammadiyah Gombong maka dapat diketahui bahan makanan yang dianjurkan untuk menurunkan hasil pemeriksaan SGOT/SGPT adalah makanan yang mengandung hidrat arang tinggi dan mudah dicerna seperti gula, selai, sirup, madu, dan manisan. Sedangkan bahan makanan yang harus dihindari adalah:
1.    Sumber lemak yaitu semua makanan yang digoreng, semua makanan tinggi lemak seperti mayonais, margarin/ mentega.
2.    Bahan makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, singkong, kacang merah, kol, sawi, caysin, lobak, durian, nangka, ketimun, santan kental.
3.    Bumbu-bumbu yang merangsang seperti cabe, bawang putih, merica, asam, cuka, jahe.
4.    Sumber protein seperti kuning telur, otak, hati, jeroan, makanan kaleng, daging tinggi lemak seperti kambing.
5.    Minuman seperti susu berlemak (susu kental manis), minuman bersoda, dan alkohol.
Setelah menerima berbagai macam perawatan dan diet rendah lemak barulah pada hari ke-6 selama di RS, akhirnya saya diperbolehkan pulang walaupun sebenarnya hasil SGOT/SGPT masih agak tinggi yaitu 61/88 unit per liter darah. Itupun karena pada hari ke-5, saya minta agar diizinkan pulang, tetapi sayangnya belum diizinkan oleh dokter. Selanjutnya, hari Senin tanggal 7 Januari 2012, saya diminta untuk checkup guna mengetahui apakah fungsi hati saya sudah kembali normal.   
   F.    Bagaimana cara pencegahan DB
Karena bahaya yang disebabkan oleh penyakit DB cukup serius dan bahkan dapat menimbulkan kematian maka alangkah baiknya jika kita mengetahui bagaimana cara pencegahan DB. Cara mencegah demam DB yang efektif adalah pengendalian vektor penyakit yaitu nyamuk Aedes dengan jalan berikut (Agung Prasetyo Wibowo, 2012):
1.    Fogging, atau pengasapan insektisida. Cara ini memiliki kekurangan karena hanya dapat memberantas nyamuk dewasa, bukan larva; hanya memiliki jangkauan 100-200 m dari pusat pengasapan; serta adanya kecenderungan nyamuk mengalami kekebalan terhadap insektisida.
2.    Pencegahan gigitan nyamuk dengan menggunakan selambu, atau obat-obat yang dioleskan ke kulit. Beberapa tanaman seperti zodia, geranium, dan lavender ternyata disebutkan dapat mencegah gigitan nyamuk.
3.    Pemberian obat-obatan pembasmi larva, seperti abate pada tempat penampungan air.
4.    Pemberantasan sarang nyamuk, seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah melalui program 3 M: menguras bak air, menutup tempat yang mungkin menjadi sarang berkembang biak nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air. Cara ini menurut beberapa penelitian adalah cara yang paling efektif, namun paling sulit untuk dilakukan karena membutuhkan peran serta seluruh masyarakat.
Saya menyadari bahwa sakit yang saya alami mungkin salah satunya disebabkan kotornya lingkungan kos karena piket kos sudah tidak jalan lagi. Kegiatan bersih-bersih kos hanya dilakukan oleh beberapa anggota kos secara suka rela dan sesempatnya. Lingkungan tersebut tentunya menjadi sarang bagi nyamuk yang dapat menularkan penyakit DB.  Kadang sampah menumpuk sampai penuh di tempat sampah tidak segera dibuang,  bak mandi sampe kotor tidak segera dikuras, lantai kotor tidak segera disapu, ditambah lagi letak kos saya di dekat kebon/pekarangan. Jika tidak di lingkungan kos, mungkin saya digigit nyamuk Aedes di lingkungan kampus, atau di lingkungan lainnya. Mengingat saat ini adalah musim hujan maka kita harus waspada karena komunitas nyamuk pada musim hujan berkembang pesat.
   G.    Hikmah yang dapat diambil dari sakit DB
Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, salah satu kunci pentingnya adalah sehat. Jika kita sehat, kita dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik dan optimal. Namun sebaliknya, jika kita sakit, pasti semua kegiatan rutin yang biasa kita lakukan sehari-hari akan terganggu dan bahkan terhenti, padahal betapa pentingnya kegiatan sehari-hari tersebut untuk menata rencana  masa depan kita.
Seperti halnya saya, sakit DB ini membuat saya tiga kali tidak masuk kuliah tambahan, tiga hari tidak mengikuti UAS pada minggu pertama, dan bahkan ketika saya berniat untuk kembali ke Yogyakarta untuk mengikuti UAS pada minggu ke-2, dokter belum mengizinkan dan justru beliau menyarankan saya untuk istirahat selama 6 hari lagi di rumah.  Tugas-tugas kuliah di akhir semester seperti tugas membuat instrumen pembelajaran matematika dan membuat proposal tesis juga terhambat. Tugas membuat makalah Filsafat Ilmu pun selesai di akhir waktu yang ditentukan. Kuliah S2 ini menjadi terganggu gara-gara sakit. Pada hal betapa berharganya S2 ini bagi masa depan saya. Andaikan saya sehat, saya tidak harus membolos kuliah sampai tiga kali berturut-turut, proses penyelesaian tugas akhir semester juga tidak terganggu, dapat mengikuti UAS dari awal sampai akhir, dan juga dapat belajar kelompok dengan teman-teman kelas ketika mempersiapkan UAS, dsb.
Saya menyadari bahwa selama di kos, pola makan saya kurang teratur. Kadang benar-benar sampai telat sehingga menyebabkan nyeri lambung. Terkadang juga mengkonsumsi makanan cepat saji seperti mie yang tidak baik untuk kesehatan lambung. Saya juga sering lembur malam, dan supaya tidak ngantuk, saya mengkonsumsi kopi.  Benar-benar pola hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, kita harus bisa mengimbangi antara rutinitas sehari-hari dengan tidak melupakan kesehatan tubuh kita juga.
Kesehatan merupakan salah satu nikmat yang sangat luar biasa mahalnya. Untuk tetap sehat, kita harus benar-benar menjaga kesehatan kita dengan mengkonsumsi suplemen, makan dan minum teratur, istirahat yang teratur, dan selalu menjaga kebersihan.  Ada sebagian yang mengatakan untuk menjaga kesehatan itu mahal harganya, tetapi sebenarnya ketika sakit,  biaya yang dikeluarkan  justru lebih banyak dan lebih mahal,contohnya, untuk berobat ke dokter dan membeli obatnya. Begitu juga yang saya rasakan. Enam hari opname di RS, biayanya yang keluar hampir mencapai 6 juta, itu saja belum termasuk biaya untuk membeli makanan untuk orang yang turut menjaga saya,  atau makanan bagi orang yang  menjenguk, serta membeli berbagai peralatan yang mendadak diperlukan selama rawat inap di RS. Belum lagi biaya untuk membayar ongkos checkup, dll. Jika saya sehat, seharusnya uang itu bisa digunakan untuk membayar SPP, membayar kost, atau kebutuhan lainnya, bukan untuk biaya berobat karena sakit.
Tidak ada orang yang menginginkan sakit, begitu juga saya. Betapapun demikian tetapi jika Allah menghendaki kita sakit, tentu kita tidak dapat menolaknya. Hendaknya kita mencari makna dibalik sakit yang kita alami. Kondisi sakit dapat membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta. Selain itu juga dapat membuat kita menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Dengan sakit, kita pun menjadi mengerti betapa orang lain perhatian dengan kita, menjenguk, mendoakan, memberi semangat, dan memberikan bantuan sesuai dengan yang diperlukan. Betapa hal itu tidak selalu dapat diperoleh ketika kita sehat.  Bahkan teman-teman 1 kelas sampai mengadakan doa bersama untuk kesembuhan saya.
Sakit merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui seberapa besar kesabaran dan ketabahan kita. Selanjutnya, sakit juga dapat menjadi pelebur dosa kita di masa lalu. Seperti Hadist Riwayat Bukhari-Muslim yang mengatakan bahwa: Setiap orang pasti pernah mengalami sakit. Rasulullah SAW sendiri mengalami sakit . Walau begitu, Nabi tetap sabar dan tabah. Beliau mengatakan kepada Ibnu Mas’ud r.a. bahwa penyakit yang datang ke dalam tubuh seorang Muslim itu dapat menggugurkan dosa sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.
Pada waktu lain, Rasulullah menjenguk Salman al-Fahrisi yang tengah berbaring sakit. Rasulullah bersabda. “Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu dikala sakit. Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah SWT, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu.”
Rasulullah pun melarang untuk mencela penyakit. Ketika Ummu Saib sakit demam dan mencela penyakit yang menimpanya, Nabi bersabda. “Janganlah kamu mencela demam. Karena sesungguhnya demam itu menikis kesalahan anak cucu Adam sebagaimana bara api mengikis keburukan besi” (HR. Muslim).    
Ya Allah, ampunkanlah kami yang baru merasakan nikmatnya hidup sehat ketika kami sakit. Ya Allah, betapa kami kurang dapat mensyukuri begitu banyaknya kenikmatan yang  Engaku berikan kepada kami saat kami sehat. Ya Allah, betapa kami harus menjaga kesehatan tubuh kami ini sebagai rasa syukur akan nikmat-Mu. Ya Allah, betapa sombongnya kami pada saat kami sehat. Betapa sehat itu menjadi sebuah realitas yang sangat penting ketika kami sakit. Jadikanlah kami hamba-hambamu yang dapat mensyukuri nikmat-Mu dan  bantulah kami agar dapat selalu menjaga kesehatan kami. Amin ya Rabbal ‘alamin.

BAB III
KESIMPULAN
Sakit adalah sebuah fenomena alamiah yang pasti pernah dialami oleh semua orang. Hanya saja, sakit yang dialami orang berbeda-beda kadarnya, ada yang sakit ringan, sedang, atau parah.  Fenomena ini harus diambil hikmahnya agar ada sebuah makna dan pengalaman berharga yang akan menjadi pelajaran untuk hidup lebih baik dikemudian hari, pasca sembuh. Setelah sembuh dari sakit, seseorang diharapkan menjadi lebih bijak pada dirinya sendiri, lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, mengenal orang lain lebih empatis, berjiwa besar, dan selalu mencari makna pada setiap pengalaman dan apa yang terjadi. Pada hakekatnya, segala hal yang telah kita alami itu “penting”, baik  senang maupun duka, semuanya adalah lembaran kisah abadi yang berpengaruh pada kepribadian dan eksistensi kita dihadapan Allah dan dihadapan sesama manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Agung Prasetyo Wibowo . (2012). Demam Berdarah Dengue.  [Online]. Tersedia: http://dinkes.malangkota.go.id/index.php/artikel-kesehatan/160-demam-berdarah-dengue. [6 Januari 2013].
Anonim. (2012). Pemeriksaan IgG dan IgM pada Demam Berdarah Dengue. [Online]. Tersedia: http://drdjebrut.wordpress.com/2012/01/27/pemeriksaan-igg-dan-igm-pada-demam-berdarah-dengue/. [6 Januari 2013].
Gina Septiani. (2009). Demam Berdarah Dengue, Masalah dan Cara Penanggulangannya. [Online]. Tersedia: http://ginaseptiani.wordpress.com/2009/04/25/demam-berdarah-dengue-masalah-dan-cara-penanggulangannya/. [6 Januari 2013].
Riswanto. ([Online]. Tersedia: http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/hitung-trombosit.html . [6 Januari 2013].
Tim Redaksi Klikdokter. (         ).SGOT-SGPT. [Online]. Tersedia: http://m.klikdokter.com/ekonsultasi/read/17744/sgot-sgpt. [6 Januari 2013].




Tidak ada komentar:

Posting Komentar