Senin, 17 Desember 2012

PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA BAGI SISWA

Refleksi Kuliah ke-15, Selasa 11-12-12



Pengetahuan siswa bersifat hologram. Arti hologram adalah tidak terduga-duga dari mana munculnya, muncul dari berbagai sumber/sudut,  unpredictable.   Oleh karena itu, pengetahuan siswa yang bersifat hologram artinya pengetahuan siswa muncul dari berbagai sumber/sudut atau bersifat terbuka. Bersifat terbuka artinya pengetahuan siswa tidak hanya berasal dari guru semata, tetapi bisa berasal dari internet, televisi, koran, majalah, dan sumber-sumber lain.  
Dalam pembelajaran, guru bukanlah satu-satunya sumber informasi. Siswa juga dapat menjadi sumber informasi. Misalnya, seorang siswa telah membaca koran sehingga dia mengetahui suatu fenomena/ berita tertentu, sedangkan guru belum membacanya, maka dalam hal ini, siswa tersebut dapat memberikan informasi kepada teman-teman dan gurunya. Dalam kondisi ini, tentunya guru akan belajar dari siswa.
 Sebagai guru, tidaklah bijak jika dia memposisikan dirinya sebagai orang yang paling pandai dalam pembelajaran di kelas. Ia seharusnya dapat berperan sebagai fasilitator agar siswanya aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pandangan constructivism yang memposisikan siswa sebagai problem solver, pembuat keputusan, dan meaning makers, bukan sebagai individu yang pasif. Melalui keterlibatan aktif siswa tersebut diharapkan  pengetahuan akan terbangun dengan baik pada diri siswa.
Langkah pembelajaran berdasarkan pandangan constructivism yaitu: berikan suatu masalah yang dapat dinikmati siswa dan berasal dari pengalaman yang menarik; siswa memerlukan waktu dan kebebasan untuk bekerja dengan caranya sendiri; coba untuk tidak menunjukkan penyelesaian dan bersiap untuk mengikuti ide dari siswa; adakalanya perlu ditunjukkan kepada siswa bagaimana menyelesaikan masalah tersebut  dan arahkan perhatian mereka pada keterampilan memecahkan masalah dan strategi yang dapat digunakan; anjurkan kepada siswa untuk menentukan suatu langkah permulaan, sekalipun pendekatan mereka kemudian diperbaiki. Anjurkan pula agar melihat kembali metode yang tidak berhasil dikerjakan dan mencoba untuk membandingkannya (Stancey dan Southwell dalam Lester, 1994: 666). Dengan demikian, pembelajaran bukan hanya sekedar transfer pengetahuan dari guru kepada siswa tetapi pembelajaran di sini menjadi suatu proses yang lebih bermakna bagi siswa.

Sumber: Lester, J.R.F. (1994). Mising About Mathematics Problem Solving Research (Journal). Blou Mingbon: Indiana University.

Pertanyaan:
Kemampuan apa saja yang perlu dimiliki guru agar dapat memfasilitasi proses belajar siswa secara konstruktivis? 




Senin, 03 Desember 2012

KEKAGUMANKU PADA SOSOK BEGAWAT YANG HAUS DAN RINDU ILMU



Refleksi Kuliah ke-13

Selasa, 27 November 2012 sekitar pukul 07.30 WIB, Pak Marsigit masuk ke ruang 300B, ruang dimana kami akan melangsungkan kuliah filsafat ilmu. Berbeda dari biasanya, kali ini Pak Marsigit membawa laptop. Sebenarnya tidak aneh sih, dosen datang ke ruangan kami membawa laptop. Tapi, untuk Pak Marsigit, hal itu di luar kebiasaan beliau. Pikiran kami sempat bertanya-tanya. Mungkinkah akan ada kuis yang bahan-bahannya ada di laptop? Tanpa membawa laptop saja, pertanyaan kuis dari beliau susah kami jawab. Apalagi jika membawa laptop, kemungkinan bahan kuis yang akan disampaikan lumayan banyak dan sudah tentu sulit dijawab.
Dengan bantuan mahasiswa, Pak Marsigit melakukan persiapan perkuliahan dengan mengatur meja, menghidupkan LCD, dan beberapa persiapan lainnya. Posisi duduk kami pun seperti biasanya, berkerumun mendekat dengan Pak Marsigit.
Setelah dimulai dengan berdoa, laptop mulai dinyalakan. Sungguh pemandangan yang aneh bagi kami. Tampilan awal laptop pada layar desktop Pak Marsigit penuh dengan folder. Dari pojok kiri atas, sampai pojok kanan bawah, layar desktop penuh dengan folder. Aneh, benar-benar aneh. Itulah yang ada di benak kami, khususnya saya. Kenapa ya beliau menaruh folder sebanyak itu pada tampilan layar desktop?
Melihat gelagat kami, beliau langsung paham kemudian berkata, “Ya inilah data-data saya. Bahkan di rumah, saya masih mempunyai dua hardisk lagi”. Subhanallah… Saya bertanya-tanya dalam hati, apa saja ya isinya?  Beliau mulai membuka-buka local disk C, D, dan E. Beberapa memang sudah hampir penuh. Dari sekian banyak folder, beliau membuka folder father yang isinya ternyata banyak sekali folder. Kemudian beliau kembali membuka salah satu dari folder-folder tersebut yang ternyata isinya banyak folder juga.
Folder-folder tersebut berisi karya-karya beliau seperti buku dan paper yang telah disampaikan pada workshop, seminar, dan lesson study yang dilaksanakan baik di dalam maupun di luar negeri. Ada juga folder yang berisi referensi yang luar biasa banyaknya. Saya sampai berpikir kalau laptop Pak Marsigit sudah seperti “Google” saja. Segala referensi sepertinya ada di sana, tinggal searching saja.
Beliau mulai menunjukkan folder-folder yang berisi referensi dengan berbagai karya filsuf dan berbagai referensi  aliran  seperti fondationalism, skepticism, fallibism, hedonism, dll yang hanya kami ketahui sebagian saja dari blog Pak Marsigit. Sungguh hal itu benar-benar membuka pikiran kami tentang banyaknya ilmu yang belum kami ketahui. Benar-benar tidak pantas jika selama ini kami sombong dengan ilmu yang telah kami kuasai. Dari isi laptop Pak Marsigit saja banyak yang belum kami ketahui, apalagi di luar sana masih ada banyak lagi ilmu  yang belum kami ketahui.

Kami juga diajak memahami karya-karya para filsuf dengan memahami kalimat-demi kalimat. Beliau mencoba membuka 1 file, kalau tidak salah karya Immanuel Kant. Kami kira hanya 21 halaman. Ternyata lebih dari 300 halaman, berbahasa Inggris, tidak ada gambar, berspasi 1, full text. Wah, kalau kami yang disuruh membaca, sudah malas duluan. Tapi beliau benar-benar mengajak kami mencoba memahami satu-demi satu kalimatnya. Itulah usaha kita dalam menggapai ilmu.
Betapa kagumnya kami melihat sosok Pak Marsigit. Beliau benar-benar membuat kami semakin merefleksikan diri kami. Selama ini, sudah berapa buku kah yang sudah kami baca? Bagaimana dengan buku atau referensi yang berbahasa Inggris? Tentu lah belum seberapa buku/referensi yang telah kami baca. Itu baru membaca. Pertanyaan selanjutnya adalah, karya apakah yang telah kami buat? Karya yang berharga paling-paling baru skripsi. Diminta membaca elegi dan comment saja masih susah, apalagi kalau diminta membuat karya. Sungguh kuliah tersebut memberi motivasi bagi kami, khususnya bagi diri saya. Betapa kami sangat perlu meningkatkan usaha kami agar kapasitas pengetahuan kami meningkat. Harus lebih giat dan semangat lagi dalam menggapai ilmu karena ilmu yang kami miliki belumlah seberapa.
 Terima kasih  Pak Marsigit. Anda memberi kami motivasi besar untuk lebih gigih dalam meningkatkan dimensi pengetahuan kami. Anda adalah salah satu contoh sosok orang yang rindu dan haus akan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Semoga kami dapat mengikuti jejak-jejak Bapak. Amin… Mohon doanya ya Pak…        

Pertanyaan:
Hambatan paling sulit ketika kita menimba ilmu adalah kemalasan yang ada dalam diri kita. Contohnya, ketika kita melihat referensi berbahasa asing (misalnya berbahasa Inggris), kita sudah malas. Referensi berbahasa Inggris saja sudah melemahkan semangat, apalagi referensi yang menggunakan bahasa lain, misalnya berbahasa Jepang, Korea, Jerman, Perancis, dll, sudah bisa dipastikan tidak akan dibaca. Mungkin bahasa Inggris, bagi Bapak sudah tidak menjadi masalah. Apa saran Bapak kepada kami agar dapat mengatasi masalah tersebut? 

Selasa, 20 November 2012

TAK BERDAYA MELAWAN KEKUATAN “SANG POWER NOW”


Refleksi Kuliah Filsafat Pertemuan ke-12 (20 Nov 2012)

Globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan kemajuan teknologi merupakan empat hal yang tidak asing lagi di telinga kita.  Jika kita mendengar keempat hal tersebut tentunya terlintas dalam benak kita tentang keadaan yang serba praktis (pragmatism), berorientasi manfaat (utilitarianism), berorientasi pada materi (materialism), dan cenderung mengutamakan kesenangan (hedonism). Pragmatism, utilitarianism, materialism, dan hedonism inilah yang sering disebut-sebut Bapak Marsigit  sebagai kekuatan Sang Power Now.
Adanya kekuatan Sang Power Now tersebut telah menjadikan orang berlomba-lomba dan bersaing untuk saling mengalahkan. Siapa yang kuat dialah yang akan menjadi pemenang dan menjadi pemimpin. Dengan demikian, Si pemenang tersebut akan dengan mudah dapat menguasai dan mengendalikan yang lemah.  Sebagai contoh: Negara Amerika yang unggul dalam ekonomi, perindustrian, teknologi, dan politiknya tentu saja membuat Amerika dapat dengan mudah mempengaruhi/mengendalikan bangsa lain.
Apa pengaruhnya bagi bangsa lain? Penjelasannya sebagai berikut. Misalnya jika kita soroti dari segi teknologinya. Orang tentu tidak mau dibilang “kuper”. Oleh karena itu, orang akan berusaha terus mengikuti arus perkembangannya. Lihat saja di lingkungan kita saat ini. HP, laptop, kamera digital (Camdig), iPad, iPhone, dan berbagai macam alat elektronik lainnya telah menjamur di mana-mana. Tidak hanya itu, masih banyak lagi barang elektronik seperti TV, mesin cuci, kipas angin, dan berbagai peralatan elektronik rumah tangga lainnya, semakin hari semakin banyak saja orang yang menggunakannya. Belum lagi kendaraan pribadi (mobil maupun sepeda motor) yang semakin meningkat jumlahnya.
Teknologi memang memudahkan kehidupan kita dalam berbagai hal. Teknologi juga memberikan banyak keuntungan bagi kita. Contohnya, dengan HP kita dengan mudah bisa berkomunikasi dengan orang lain walau jaraknya jauh. Bahkan saat ini, HP tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi tetapi dapat juga untuk berfoto, mendengarkan musik, merekam video, internetan, dan berbagai fasilitas lainnya. Jika kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, hampir tidak ada orang yang tidak mempunyai HP. Bahkan anak TK (Taman Kanak-Kanak) saja sudah menggunakan HP. Betapa kita sudah sangat tergantung pada HP. Tanpa HP, hidup rasanya hampa. Kita akan susah berkomunikasi dengan teman-teman atau keluarga kita di tempat yang jauh di sana.
Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa orang-orang akan semakin banyak menggunakan barang-barang hasil kemajuan teknologi. Semakin banyaknya permintaan tersebut tentunya akan meningkatkan industri. Semakin banyak industri maka akan semakin banyak pula limbah pabrik yang dapat merusak alam. Jika hal ini berlangsung berlarut-larut, sampai kapankah bumi kita akan bertahan?
Sebagai manusia yang beriman, seharusnya kita tidak boleh seperti itu. Seharusnya kita dapat menjaga alam agar tetap subur/lestari. Dengan apakah kita bisa menjaga alam? Salah satunya adalah mengurangi limbah industry. Itu artinya orang harus mengurangi penggunaan barang-barang hasil kemajuan teknologi seperti HP, laptop, TV, kipas angin, mesin cuci, mobil, sepeda motor, dll. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita bisa meninggalkan barang hasil kemajuan teknologi padahal kita tahu bahwa barang-barang tersebut memberikan banyak manfaat atau kemudahan dalam hidup kita? Tanpa HP saja hidup kita terasa hampa. Tanpa mobil atau sepeda motor, orang akan susah bepergian ke mana-mana. Haruskah kita kembali ke zaman tradisional agar alam/lingkungan kita tetap lestari? Di sinilah kekuatan Sang Power Now dimana setiap orang tidak dapat melawannya. Semua orang telah ikut tenggelam dan terbawa oleh arusnya.

Pertanyaan:
Teknologi telah memberikan kemudahan dan banyak keuntungan bagi  kehidupan manusia. Akan tetapi dampaknya akan merusak kelestarian alam. Apa langkah konkret kita dalam menghadapi kekuatan “Sang Power Now” ini padahal kita tahu sendiri bahwa kita pun tidak dapat meninggalkan segala fasilitas hasil kemajuan teknologi? Haruskah kita kembali ke zaman tradisional agar alam/lingkungan kita tetap lestari?

Kamis, 15 November 2012

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN SEKOLAH MENUJU SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)?

Menuju Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) memang tidak mudah. Banyak komponen yang perlu dibenahi/diperbaiki. Usaha perbaikan tersebut bukanlah semata-mata tanggung jawab kepala sekolah sebagai penanggung jawab sekolah. Akan tetapi juga merupakan tugas para guru dan segenap karyawan yang terlibat di sekolah tersebut. Berikut adalah beberapa hal yang perlu menjadi perhatian sebagai refleksi  bagi semua pihak sekolah guna mengembangkan sekolah menuju Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Silakan di klik link berikut:

Selasa, 13 November 2012

RETORIKA KEBINGUNGAN FILSAFAT


Budimansani (12709251054)
Endang Wahyuningsih (12709251050)

1.         Menurut Anda, siapakah orang yang paling berbahaya? Mengapa?
Jawab: Yang paling berbahaya adalah diri kita sendiri, ketika kita terjebak dalam mitos kita sendiri dan tak pernah menyadarinya.
Tanggapan:
Saya sependapat dengan jawaban tersebut.  Orang yang paling berbahaya adalah diriku yang terjebak oleh mitos sendiri.
2.         Menurut Anda, siapakah orang yang paling pandai? Mengapa?
Jawab: yang paling pandai adalah diri kita sendiri ketika kita mampu menggunakan pikiran yang merupakan anugrah terindah dalam diri kita untuk senantiasa berfikir dan berfikir tentang setiap langkah kehidupan dan ketika pemikiran-pemikiran itu terlahir untuk kemaslahatan orang banyak
Tanggapan:
Saya kurang sependapat dengan jawaban tersebut. Menurut saya, orang yang paling pandai adalah bukan diriku. Ketika aku merasa mampu menguasai suatu ilmu maka aku belum tentu mempunyai ilmu yang lain. Di atas puncak gunung masih ada puncak gunung yang lebih tinggi lagi.
3.         Menurut Anda, siapakah orang yang paling bodoh? Mengapa?
Jawab: Yang paling bodoh adalah diri kita sendiri ketika kita tak mempu mengoptimalkan apa yang kita punya, ketika kita tak mampu memanfaatkan peluang yang ada, ketika kita tahu bahwa sesuatu itu indah tapi tak pernah untuk meraihnya.
Tanggapan:
Menurut saya, orang yang paling bodoh adalah orang yang sudah merasa jelas dan pandai sehingga tidak mau berusaha untuk meningkatkan ilmunya lagi. Sedangkan orang yang tak mampu mengoptimalkan apa yang dia punya, ketika dia tak mampu memanfaatkan peluang yang ada, ketika dia tahu bahwa sesuatu itu indah tapi tak pernah untuk meraihnya itu adalah orang yang paling merugi.

4.         Menurut Anda, siapakah orang yang paling lemah? Mengapa?
Jawab: Yang paling lemah itu adalah kita, ketika hidup sudah dianggap tak berguna lagi, ketika merasa puas akan pencapaian sementara dan tak pernah berusaha lagi untuk mencapai yang lebih baik, dan ketika sombong sudah ada dalam hati yang suci, karena sombong sudah menunjukkan bahwa iman seseorang itu adalah lemah.
Tanggapan:
Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak bisa menahan amarah dan tidak bisa memaafkan orang lain yang telah menyakiti hatinya. Dia lemah karena dia tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri maka mustahil dia bisa mengendalikan orang lain. Oleh karena itu,  orang yang tidak bisa menahan amarah dan tidak bisa memaafkan orang lain itu adalah orang yang paling lemah.
5.         Bagi sebagian besar siswa, Matematika adalah pelajaran yang sulit. Bagi Anda sendiri (calon pendidik yang telah lama berkecimpung dengan Matematika), apakah Matematika juga termasuk pelajaran yang sulit? Jika Anda menjadi guru, cara apakah yang Anda gunakan untuk mengatasi masalah tersebut?
Jawab: Kita mengatakan matematika adalah sulit ketika kita tak mengerti akan makna dan fungsinya, kita mengatakan matematika sulit ketika dalam diri kita tak mempunyai jiwa tantangan,  hal yang terbaik yang bisa untuk dilakukan adalah tanamkan dalam setiap benak siswa bahwa matematika adalah cara hidup, yang kemudian setiap pembelajaran di dukung oleh bukti-bukti empiris bahwa matematika itu bermanfaat dalam menyikapi hidup.
Tanggapan:
Menanamkan dalam setiap benak siswa bahwa matematika adalah cara hidup manusia sehingga matematika  sangat bermanfaat dalam hidup kita,  memang hal itu adalah cara bagus untuk memberikan motivasi bagi siswa dalam mempelajari matematika.
Tetapi pada kenyataannya,  terkadang guru merasa sulit untuk memberikan motivasi kepada siswa-siswanya. Hal tersebut justru akan menambah keyakinan siswa bahwa matematika memang pelajaran yang sulit.


6.         Dalam pendidikan ada “penilaian”. Menilai berarti mereduksi sifat-sifat siswa yang lainnya. Setujukan Anda dengan penilaian tersebut? Jika Anda setuju, penilaian yang seperti apa yang baik diterapkan dalam pendidikan?
Jawab: Pada hakekatnya penilaian adalah bukan suatu yang di ukur dari sebongkah angka yang hanya mengukur beberapa sisi dari setiap aspek siswa. Penilaian adalah bagaiamana kita menyikapi setiap usaha yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai suatu pengetahuan dalam bidang tertentu.
Tanggapan:
Pada dasarnya saya setuju dengan jawaban tersebut. Penilaian yang baik adalah penilaian yang memperhatikan setiap proses belajar siswa. Bukan hanya pada akhirnya saja.
7.         Intuisi itu bersifat ganda, artinya jika kita memikirkan hal yang satu maka secara otomatis kita juga akan memikirkan  hal yang lain. Bagaimana jika ketika Anda sedang mengajar Matematika, ternyata siswa justru memikirkan yang lainnya (misalnya memikirkan tugas pelajaran lain). Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi kenyataan ini?
Jawab: Aku tidak  bisa menterjemahkan pikiran-pikiran siswa ketika aku sedang mengajar di dalam kelas. Yang bisa dilakukan adalah melihat respon dari setiap stimulus yang diberikan. Hal terbaik yang dilakukan adalah mengupayakan setiap pembelajaran memberikan stimulus-stimulus yang sekiranya memunculkan respon terhadap suasana, pelajaran atau lingkungan saat itu, kemudian barulah kita bisa menentukan langkah apa yang kita ambil untuk menyikapi dan menyelesaikan masalah itu.
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban tersebut.
8.         Pernahkah Anda merasa sangat menyesal? Menurut Anda, kenapa manusia merasa menyesal? Mengapa kebanyakan manusia menyesali perbuatannya tetapi pada akhirnya mengulangi lagi?
Jawab: Menyesal adalah perkara wajib yang pernah ada pada  setiap manusia. Menyesal adalah ketika kita menyadari bahwa apa yang pernah kita lakukan telah menyimpang dari jalan yang seharusnya, dan penyesalan itu adalah suatu langkah untuk merefleksikan setiap apa yang pernah kita lakukan, dan ketika perbuatan itu terulang lagi itu menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang tak pernah lepas dari lupa dan dosa. Hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah selalu berusaha dan berusaha untuk senantiasa konsisten terhadap keputusan-keputusan yang kita ambil berdasarkan dari pengalaman hidup yang pernah kita sesalkan.
Tanggapan:
Menurut saya, menyesal bukanlah “perkara wajib yang pernah ada pada  setiap manusia”.  Saya lebih setuju menyebutnya sebagai “perkara yang manusiawi” tetapi bukan hal yang “wajib”.  Untuk jawaban selanjutnya, saya setuju.
9.         Setiap manusia pasti pernah merasa tidak mampu. Bagaimana Anda menghadapi ketidakmampuan itu? Mengapa?
Jawab: Tidak mampu adalah bukan perkara keterbatasan, tetapi terkait dengan kemauan yang ada dalam diri kita. Ketika ada kemauan pasti ada jalan, karena setiap ada kemauan disitulah ada usaha-usaha yang tercipta untuk melampaui ketidakmapuan itu.
Tanggapan:
Ada kalanya ketidakmampuan juga disebabkan karena keterbatasan seseorang (hal yang diluar kemampuannya). Pada saat kita sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi masih saja kita tidak mampu mencapai apa yang kita harapkan. Pada saat itu juga, lebih baik kita menyerahkan urusan tersebut kepada Allah dan berdoa agar diberi jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi.
10.     Pernahkah Anda merasa sangat tertekan? Menurut Anda, mengapa manusia merasa tertekan? Tindakan apa yang Anda lakukan untuk mengatasi perasaan tersebut? 
Jawab : Tertekan itu ketika kita berada bukan dalam situasi normal. Yang mesti dilakukan adalah mencari celah dan mencari setiap peluang untuk terbebas dari ruang itu karena setiap ada kesulitan terselip suatu kemudahan.
Tanggapan:
Saya setuju dengan jawaban tersebut. 

Sabtu, 10 November 2012

SUMBER INSPIRASI BAGI GURU

Berikut adalah sumber yang bagus bagi para guru dan calon guru. Semoga bermanfaat... Amin.

http://suaraedukasi.kemdikbud.go.id/
http://tve.kemdikbud.go.id/
http://video.kemdikbud.go.id/

BETAPA PENTINGNYA PERAN GURU DALAM MENGUBAH NASIB BANGSA

Semoga artikel ini memberikan spirit bagi para pendidik maupun calon pendidik untuk mempersiapkan dirinya sebagai salah satu agen perubahan bangsa. Wahai Guru, melalui tanganmu lah nasib bangsa kita akan ditentukan.
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel_hgn

Guru dan Ramalan McKinsey

Posted Mon, 10/29/2012 - 08:48 by sidiknas


Dari dua minggu terakhir September 2012 hingga minggu pertama Oktober 2012, ramalan McKinsey & Co banyak menghiasi media massa di tanah air. Maklumlah, dalam laporannya bertajuk The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia's Potential, McKinsey menyebutkan pada tahun 2030 ekonomi Indonesia akan menempati posisi ke-7 Ekonomi Dunia mengalahkan Jerman dan Inggris.

Menurut McKinsey, terdapat sejumlah indikasi Indonesia menjadi negara besar. Untuk 2012 ini, skala ekonomi Indonesia menempati posisi 16 besar dunia dengan pertumbuhan yang relatif stabil, yaitu sekitar 6,5% setiap tahun. Indonesia juga mampu melewati masa krisis ekonomi yang melanda dunia. Indikasi lainnya, Indonesia mampu meningkatkan jumlah investasi asing dalam beberapa tahun terakhir, sebagai misal US$ 20 miliar pada tahun 2011 dan proyeksi sebesar US$ 28 miliar untuk tahun 2012.

Pada tahun 2030 itu perekonomian Indonesia akan ditopang oleh empat sektor utama yaitu bidang jasa, pertanian dan perikanan, serta sumber daya alam. Ekonomi Indonesia juga akan terus tumbuh dengan didorong oleh kekuatan regional. Dalam 15 tahun ke depan, 1,8 miliar orang kelas konsumsi di dunia sebagian besar akan berada di Asia.

Pada saat itu, kata McKinsey pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia juga akan meningkat dari 45 juta orang pada tahun 2012 menjadi 90 juta orang pada 2030. Daya beli mereka juga signifikan karena pendapatan bersihnya diperkirakan sebesar US$ 3.600 per tahun. Terbayanglah, saat itu Indonesia akan menjadi negara yang makmur.

Peran Guru


Banyak kalangan yang optimis dengan ramalan McKinsey ini, terutama dari kalangan pemerintah. Namun mereka juga sadar bahwa untuk mencapai kesuksesan itu Indonesia membutuhkan banyak tenaga ahli dan kaum wirausahan.

Kenyataan, hingga tahun 2012 ini Indonesia masih sangat kekurangan tenaga ahli. Indonesia membutuhkan sekitar 25 ribu insinyur dan ribuan teknokrat. Padahal tenaga ahli ini sangat diperlukan untuk mengolah sumber daya alam, mengembangkan pertanian dan perikanan serta melaksanakan usaha di bidang jasa yang menjadi penopang masa depan ekonomi Indonesia seperti dinyakan McKinsey di atas.

Tentu saja, para gurulah yang bisa menjawab tantangan, menghasilkan para tenaga ahli tersebut. Kenapa para guru? Sebab kita bicara tahun 2030, bicara soal masa depan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana menyiapkan tenaga ahli untuk mengelola Indonesia di tahun 2030 tanpa guru. Di tangan para gurulah, mereka yang akan menjadi tenaga ahli itu memperoleh pendidikan dan pengajaran!

Siapakah mereka yang akan menjadi tenaga ahli di tahun 2030 itu? Mereka adalah penduduk Indonesia yang kini berusia antara 5 hingga 20 tahun dimana 99%-nya merupakan murid-murid SD hingga SMA. Tak tanggung-tanggung, jumlah mereka mencapai sekitar 100 juta orang. Sebab, data tahun 2010 menunjukkan bahwa struktur penduduk Indonesia terdiri dari dari yang berusia 0-9 tahun berjumlah sekitar 45 juta; 10-19 tahun sekitar 43 juta; dan 20-29 sekitar 41 juta.

Benar, ada sekitar 100 juta siswa-siswi yang siap dijadikan tenaga ahli guna mengelola Indonesia di tahun 2030. Andaikan kita bisa menghasilkan separuh saja dari jumlah itu, Indonesia akan memperoleh 50 juta tenaga ahli hingga bukan mustahil ramalan McKinsey itu bisa menjadi kenyataan. Dan di tangan para gurulah kini harapan itu tergenggam.

Betul, yang kita butuhkan memang tenaga ahli, bukan lulusan SMA apalagi SD. Akan tetapi masa-masa menjadi siswa mulai dari SD hingga SMA bukan saja tidak bisa dilompati begitu saja melainkan pula menjadi kontinum waktu yang sangat penting dalam membentuk karakter, pengembangan landasan pengetahuan, dan penyemaian keterampilan.

Bukankah kita ingat bahwa orang harus belajar membaca, menulis, dan menghitung serta belajar mengenali lingkungannya terlebih dahulu sebelum menjadi sarjana, wirausahawan dan tenaga terampil lainnya. Dan kepada para guru pertama-tama kita semua memempercayakan anak-anak kita.


Kualitas Guru


Betapa strategisnya peran guru dalam membentuk Indonesia yang lebih baik itu, utamanya dari perspektif pengembangan sumberdaya manusia. Meski bukan satu-satu faktor, sejarah membuktikan bahwa guru dalam arti yang seluas-luasnya menjadi unsur yang menentukan bagi keberhasilan sebuah bangsa. Konon, ketika Jepang luluh-lantak setelah dibom atom pada tahun 1945, pertanyaan yang meluncur dari Kaisar Hirohito bukanlah seperti apa dan berapa kerusakan yang terjadi melainkan berapa orang guru yang masih tersisa?

Lantas, berapa guru yang dimiliki Indonesia? Data tahun 2011/2012 menunjukkan jumlahnya diperkirakan 2,9 juta orang. Berdasarkan rasionya dengan murid adalah 1:18. Bandingkan dengan Korea, 1:30 dan Jerman, 1:20. Alhasil dari segi jumlah sesungguhnya sudah memadai, hanya saja harus diakui memang distribusinya tidak merata antara daerah perkotaan dan perdesaan.

Selain masalah distribusi yang disebabkan oleh penerapan otonomi daerah, persoalan kualitas guru juga banyak disoroti. Empat kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional belum sepenuhnya dikuasai secara merata oleh setiap guru kita. Karena itulah peningkatan kualitas guru merupakan hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pentingnya kualitas guru sering diilustrasikan dengan analogi seperti ini: jika ada seorang dokter yang malpraktek, maka akibatnya hanya mengenai pasien yang ditangani sang dokter dengan resiko tertinggi kematian sang pasien. Tetapi jika seorang guru salah mendidik, maka yang mati bukan hanya akal tetapi hati dan jiwa sang murid. Itupun masih berimbas pada anak keturunannya jika kelak sang murid menjalani kehidupan orang dewasa.

Yang dimaksud dengan peningkatan kualitas guru di sini hendaknya tidak hanya diartikan dengan uji kompetensi guru (UKG). Pada dasarnya setiap guru harus terus menerus menambah kompetensinya masing-masing dari waktu ke waktu. Sedang berlangsung atau tidak UKG, setiap guru sudah sepatutnya mengukur sendiri serta meningkatkan keempat kompetensi dimaksud. Dengan demikian kualitas pendidikan dan pengajaran terus bertambah tiada henti.

Jika peningkatan kualitas berkelanjutan ini terjadi niscaya bukan hanya para murid yang diuntungkan, melainkan pula para orang tua atau wali murid. Kalau para gurunya berkualitas terbaik, tentu mereka tak perlu menambah kegiatan putera-puteri mereka dengan beragam les yang bukan saja menghabiskan waktu sosial anak-anak akan tetapi juga menambah beban biaya dan perhatian bagi para orang tua. Lebih dari itu, guru dengan kualitas terbaik menjamin tercapainya harapan bangsa seperti diramalkan McKinsey (*)

Sabtu, 29 September 2012

MENELUSURI JEJAK-JEJAK FILSAFAT


Refleksi Ke-4 Kuliah Filsafat Ilmu
Filsafat telah ada sejak zaman kuno yaitu abad ke-6 SM. Seiring berjalannya waktu, filsafat menjadi semakin berkembang.  Perkembangan filsafat dibagi menjadi 4 periode yaitu:
1.      filsafat kuno: kosmosentrisme
2.      filsafat abad pertengahan: teosentrisme
3.      filsafat modern: antroposentrisme, dan
4.      filsafat masa kini (contemporary): logosentrisme.
Sejarah perkembangan filsafat di sini adalah mengacu pada pemikiran filsafat Barat di Yunani.
           
A. FILSAFAT KUNO (650 SM – 1399 SM)
Filsafat kuno yang dimaksud di sini adalah pada zaman Yunani Kuno. Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Periode filsafat Yunani Kuno merupakan periode penting sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia dari mite-mite menjadi lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menyelesaikan fenomena alam. Zaman filsafat kuno dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
1.   Permulaan Filsafat Barat di Yunani Kuno (650SM – 600SM)
Permulaan filsafat barat di Yunani Kuno termasuk ke dalam periode filsafat alam. Beberapa tokoh filsuf pada zaman ini adalah :
a.       Thales (624SM – 546SM)
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu itu asalnya dari  air.
b.      Anaximander (611SM – 547SM)
Anaximander berpendapat bahwa yang dianggap asal dari segala sesuatu adalah yang tak terbatas (to apeiron).
c.       Anaximenes (599SM – 524SM), murid Anaximander
Anaximenes berpendapat bahwa yang dianggap asal dari segala sesuatu adalah udara.
d.      Heraclitus of Ephesus (540SM – 460SM)
Menurut Heraclitus berpendapat bahwa yang menjadi dasar semua materi adalah api. Menurutnya, segala sesuatu di alam ini tidak ada yang tetap dan selalu berubah secara berkesinambungan.
e.       Pythagoras
Pythagoras dikenal sebagai Bapak Bilangan. Menurutnya segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, sehingga ia berpendapat bahwa segala sesuatu itu berasal dari bilangan.
Kelima tokoh di atas dikenal dengan nama filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu.
2.   Zaman Keemasan Filsafat Yunani (480SM-399SM)
Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles, kegiatan politik dan filsafat dapat berkembang dengan baik. Pada masa ini objek penyelidikan bukan lagi alam tetapi manusia. Zaman ini merupakan periode filsafat dan metafisika. Adapun tokoh-tokoh filsafat pada masa ini antara lain :
            a.  Kaum Eleatic School (550SM)
(i)        Xenophanes of Colophon
(ii)      Permenides of Elea
Menurutnya, segala sesuatu bersifat tetap. Pendapatnya ini kontradiksi dengan pendapat Heraclitus yang mengatakan bahwa sesuatu di alam ini tidak ada yang tetap dan selalu berubah.
(iii)    Zeno of Elea
Ia paling terkenal dengan paradoksnya yaitu “Paradoks Zeno”.
           b.Kaum Pluralist (500SM)
(i)     Empedocles (490SM – 430SM)
Ia berpendapat bahwa materi terdiri dari 4 unsur yaitu air, tanah, udara, dan api. Kemudian ia menambahkan unsur cinta (philia) yang digunakan untuk menerangkan adanya keterikatan antar unsur.
(ii)   Anaxagoras (500SM – 428SM)
Ia meyakini bahwa setiap jenis benda tersusun atas banyak sekali partikel yang berbeda satu sama lain.
            c. Kaum Atomist (450SM)
(i)     Democritus (460SM – 370SM)
Democritus menjadi orang pertama yang berpendapat bahwa galaksi Bimasakti merupakan kumpulan cahaya gugusan bintang yang letaknya saling berjauhan. Ia juga mengembangkan teori mengenai atom sebagai dasar materi. Ia mengatakan bahwa setiap benda tersusun atas partikel-partikel kecil (atom).
(ii)   Leucippus
             d.  Kaum Sophist (400SM)
(i)     Protagoras
Menurutnya manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Namun pendapat ini ditentang oleh Socrates.
(ii)   Socrates (469-395 SM)
Menurut Socrates, manusia pada dasarnya mempunyai nilai-nilai etika dan cenderung berkelakuan yang baik. Yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang. Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati.
(iii) Plato (428-347SM), murid Socrates
Plato adalah pendiri institusi pendidikan filsafat yang dikenal akademia. Dalam filsafatnya, Plato berpendapat bahwa realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi pancaindra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua adalah dunia ide. Dunia fisik yang dirasakan indera adalah keadaan yang terus-menerus berubah sedangkan realitas yang disadari oleh rasio bersifat abadi. Pendapat Plato ini  mendamaikan kontradiksi antara pemikiran Parmenides dan Heraclitus: yang satu terfokus pada dunia ide saja dan yang lain pada jasmani saja.
(iv) Aristoteles (384-322 SM), murid Plato
Aristoteles mengkritik pendapat Plato diatas, ia mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filsuf realis, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Sumbangan yang sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni aktivitas rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi matematis, dan metafisis.
Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur-unsur individual untuk mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif disebut abstraksi matematis. Abstraksi di mana seseorang menangkap unsur-unsur yang hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis.
Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk. Keduanya ini merupakan prinsip-prinsip metafisis, Materi adalah prinsip yaug tidak ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisyme.
3.   Masa Helinitis dan Romawi
Muncul beberapa aliran yaitu :
a.       Stoicism
Aliran ini menyatakan penyangkalan adanya “Ruh” dan “Materi”.
b.      Epicureanism
Menurut aliran ini segala – galanya terdiri atas atom – atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa. Setiap tindakan harus dipikirkan akan akibatnya. Aliran ini merupakan pengembangan dari teori atom Democritus sebagai obat mujarab untuk menghilangkan rasa takut pada takhayul. Tokohnya adalah Epicurus (342SM – 270SM).
c.       Sinism
Yaitu bahwa jagat raya ditentukan oleh kuasa-kuasa (logos). Aliran ini merupakan pengembangan dari aliran Stoicism.
d.      Neo Platonism
Bahwa segala sesuatu berasal dari yang satu (Allah) dan akan kembali padaNya. Tokohnya adalah Plotinus, ia adalah satu-satunya tokoh filsafat yang terkenal pada masa ini.
Pada masa Helinitis, muncul tokoh – tokoh pengetahuan Yunani yaitu :
a.       Euclid (300SM)
Menurutnya ilmu adalah deduksi. Ia juga menerbitkan buku Geometri Euclid.
b.      Archimedes (287SM – 212SM)
Archimedes adalah penemu rumus luas dan volume bola, silinder, dan bentuk geometri yang lain. Ia juga menemukan bilangan pi.
c.       Apollonius (260SM – 200SM)
Ia terkenal dengan irisan kerucutnya.
d.      Ptolemy  (270-247 SM)
Ptolemy adalah seorang ahlu astronmi, geometri, matematika maupun fisika.
e.       Aristarchus (310-230 SM)
Ia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya disamping mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya.

B.  ZAMAN ABAD PERTENGAHAN (815SM – 600SM)
Masa ini adalah awal mula munculnya agama Kristen. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.
Pada zaman ini kebesaran kerajaan Romawi runtuh, begitu pula dengan peradaban yang didasakan oleh logika ditutup oleh gereja dan digantikan dengan logika keagamaan. Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu. Pada zaman itu, akademia Plato di Athena ditutup, meskipun ajaran-ajaran Aristoteles tetap dapat dikenal. Para filosof nyaris begitu saja menyatakan bahwa Agama Kristen adalah benar.
Pembagian pada zaman pertengahan yaitu:
1.      Zaman Kegelapan  atau The Dark Age
Pada waktu itu agama Kristen berkembang di Eropa. Kekuasaan gereja begitu dominan dan sangat menentukan kehidupan di Eropa. Semua kehidupan harus diatur dengan doktrin gereja atau hukum dan ketentuan Tuhan. Gereja tidak memberikan kebebasan berpikir. Hal ini telah menyebabkan kemunduran bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu tokohnya adalah Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan adalah hamba sahaya dari theology. Lalu menyatakan tentang hubungan iman dan akal yang menghasilkan budi dipelopori oleh ajaran kristiani.
2.      Zaman Renaissance
Renaissance ialah zaman peralihan dari kebudayaan Abad Pertengahan menjadi kebudayaan modern. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi (pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama). Ilmu pengetahuan yang berkembang adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Da Vinci, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei, Roger Bacon.
Ciri utama zaman ini adalah semakin berkurangnya kekuasaan gereja: era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berfikir, melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang mengungkung; teori geosentrisme dari Ptolomeus yang didukung oleh gereja dipatahkan dengan teori heliosentrisme (Copernicus); semakin bertambahnya kekuasaan ilmu pengetahuan.

C. ZAMAN MODERN
Zaman modern ditandai dengan berbagai penentuan dalam bidang ilmiah. Objek fikir pada zaman ini adalah manusia. Paham atau aliran yang muncul pada zaman ini diantaranya :
1.         Empiricism
Empirisme berpendapat pengalaman atau empirik, baik batiniah maupun lahiriah adalah sumber pengetahuan. Akal bukan sumber pengetahuan karena hanya mengolah bahan-bahan yang diperoleh pengalaman. Tokoh-tokohnya :
a.    Francis Bacon (1561-1626)
Ia menyatakan ilmu itu jika terbebas dari idol (pendapatnya).
b.   Thomas Hobbes
Ia adalah pendiri filsafat modern bersama Descartes. Ia menuntut pembenaran melalui fakta empirik.
c.    John Locke (1632-1704)
Ia meyakini bahwa kemampuan nalar manusia dengan tidak mengabaikan pentingnya pengalaman. Menurutnya pengetahuan adalah hasil olahan ide-ide di alam pikiran manusia.
d.   Isaac Newton
Ia terkenal dengan teori gravitasinya. Menurutnya tujuan pengembangan ilmu adalah menemukan hakekat alam sehingga menerangkan kejadian alam yang diamati.
e.    George Barkely
Menurutnya ilmu adalah tipuan belaka.
f.    David Hume
Menurutnya ilmu adalah totalitas dari pengalaman dan ide yaitu yang berasal dari hasil kegiatan empirik (pengalaman)
2.         Rationalism
Rasionalisme berpendapat akal atau rasio adalah sumber pengetahuan paling memadai dan dapat dipercaya memenuhi syarat umum dan mutlak yang dituntut oleh pengetahuan ilmiah. Akal tidak membutuhkan pengalaman karena pengalaman hanya dapat dipakai untuk menguatkan pengetahuan yang didapat melalui akal. Tokoh-tokohnya :
a.       Rene Descartes (1596-1650)
Menurutnya ilmu identik dengan keraguan dan untuk menuntut kepastian akan kebenarannya adalah melalui analisa matematis. Dia adalah pencetus fisika mekanik yang menerangkan kejadian alam secara mekanik. Dia adalah bapak filsafat modern, yang juga ahli dalam ilmu pasti. Dia jugalah yang berhasil menemukan system koordinat yang terdiri atas dua garis lurus x dan y dalam bidang datar.
b.      Benedict Spinoza (1632-1677)
Ia setuju dengan metode deduksi rasional dari Descartes dalam pembenaran pengetahuan. Menurutnya Tuhan adalah realita yang tak keberhinggaan dan berdiri sendiri sedang manusia adalah yang keberhinggaan yang keberadaannya ditentukan oleh Tuhan.
c.       Nicholas de Malebranche
d.      Balise Pascal
e.       Gottfried W. Von Leibnitz
3.         The Enlightenment (Zaman Pencerahan)
Pada zaman ini, kekuasaan raja yang absolut dapat dihapuskan dan digantikan dengan pemerintahan yang demokratis. Tokoh – tokohnya antara lain :
a.       Baron de Montesquieu yang terkenal dengan “Trias Politica” nya.
b.      Jean Jacques Rousseau
c.       Voltaire
4.         Kantian Critism
Tokohnya adalah Immanuel Kant. Menurutnya ilmu adalah keputusan.
5.         Idealism
Tokoh – tokohnya antara lain :
a.    Johann Fichte
Menurutnya ilmu adalah diriku yang otonom atau idealisme.
b.   George Hegel
Menurutnya ilmu adalah sejarah.
c.    Friedrich W. Von Schelling
d.   Gustav Thendor Fechner
e.    Rudolph Herman Lotze
f.    Arthur Schopenhouer
g.   Friedrich Schleiermacher
h.   Johann Herbart
6.         Positivism
Pemikiran setiap manusia, setiap ilmu dan suku bangsa manusia pada umumnya melewati 3 tahap yaitu :
a. Tahap Teologis
b.Tahap Metafisis
c. Tahap positif ilmiah
Tokoh – tokohnya antara lain :
a. Prancis : August Comte
b.Jerman : Ludwig Fauerbach, Karl Marx, Friedrich Engels
7.         Existentialism
Filsafat yang memandang segala sesuatu dengan berpangkal kepada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada dalam di dalam dunia. Tokohnya antara lain Soren Kierkegaard, Karl Barth, martin Heidegger dan Karl Jaspers.
8.         Phenomenology
Fenomenologi mengenalkan gejala-gejala dengan menggunakan intuisi. Fenomenologi merupakan aliran yang membicarakan fenomena atau gejala sesuatu yang menampakkan diri. Tokoh fenomenologi yang terkenal adalah Edmund Husserl.
9.         Pragmatism
Pragmatism adalah aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat. Akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya aadalah W. James dan J. Dewey.
10.     Psychoanalysis
Tokohnya yang terkenal adalah Sigmund Freud (1856M – 1930M).
11.     Intuitionism
Tokohnya adalah Henry Bergson (1859M – 1941M).
12.     Neo – Positivism
Tokohnya adalah Moritz Schlick, Ernst Mach, Rudolf Carnap, John Wisdom, Willard Van Orman Quine dan Ludwig Wittgenstein. Menurut Ludwig Wittgenstein ilmu adalah bahasa.
13.     Evolutionism
Tokohnya yang terkenal adalah Charles Darwin. Menurutnya ilmu adalah perkembangan.
14.     Utilitarianism
Salah satu tokohnya adalah John Stuart Mill yang menyatakan bahwa ilmu adalah manfaat.
15.     German Psycologism
Tokohnya adalah Wilhelm Wundt.
16.     Philosophical Hermeneutics
Tokohnya adalah Hans Georg Badamer.
17.     Cultural Theory : Structuralism, Postmodernism, dan Deconstructionism.
18.     The Revival of Classical Realism
19.     Objectivism
20.     Critical Rationalism
21.     Neo – Realism
22.     Neo – Pragmatism
23.     The Frankfurt School

D. ZAMAN KONTEMPORER (ARAD KE-20 DAN SETERUSNYA)
Zaman Kantemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Ilmuwan kantemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara rnendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainya, sehingga dihadirkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning.
Pertanyaan:
Sebenarnya, Zaman Renaissance termasuk pada Zaman Abad Pertengahan atau sudah masuk pada Zaman Modern? (Beberapa sumber menyebutkan Zaman Renaissance termasuk pada Zaman Abad Pertengahan, sumber yang lain menyebutkan Zaman Renaissance termasuk pada Zaman Modern).

REFERENSI
http://ninaagustyaningrum.blogspot.com/2009/05/sejarah-pemikiran-para-filsuf.html