Senin, 03 Desember 2012

KEKAGUMANKU PADA SOSOK BEGAWAT YANG HAUS DAN RINDU ILMU



Refleksi Kuliah ke-13

Selasa, 27 November 2012 sekitar pukul 07.30 WIB, Pak Marsigit masuk ke ruang 300B, ruang dimana kami akan melangsungkan kuliah filsafat ilmu. Berbeda dari biasanya, kali ini Pak Marsigit membawa laptop. Sebenarnya tidak aneh sih, dosen datang ke ruangan kami membawa laptop. Tapi, untuk Pak Marsigit, hal itu di luar kebiasaan beliau. Pikiran kami sempat bertanya-tanya. Mungkinkah akan ada kuis yang bahan-bahannya ada di laptop? Tanpa membawa laptop saja, pertanyaan kuis dari beliau susah kami jawab. Apalagi jika membawa laptop, kemungkinan bahan kuis yang akan disampaikan lumayan banyak dan sudah tentu sulit dijawab.
Dengan bantuan mahasiswa, Pak Marsigit melakukan persiapan perkuliahan dengan mengatur meja, menghidupkan LCD, dan beberapa persiapan lainnya. Posisi duduk kami pun seperti biasanya, berkerumun mendekat dengan Pak Marsigit.
Setelah dimulai dengan berdoa, laptop mulai dinyalakan. Sungguh pemandangan yang aneh bagi kami. Tampilan awal laptop pada layar desktop Pak Marsigit penuh dengan folder. Dari pojok kiri atas, sampai pojok kanan bawah, layar desktop penuh dengan folder. Aneh, benar-benar aneh. Itulah yang ada di benak kami, khususnya saya. Kenapa ya beliau menaruh folder sebanyak itu pada tampilan layar desktop?
Melihat gelagat kami, beliau langsung paham kemudian berkata, “Ya inilah data-data saya. Bahkan di rumah, saya masih mempunyai dua hardisk lagi”. Subhanallah… Saya bertanya-tanya dalam hati, apa saja ya isinya?  Beliau mulai membuka-buka local disk C, D, dan E. Beberapa memang sudah hampir penuh. Dari sekian banyak folder, beliau membuka folder father yang isinya ternyata banyak sekali folder. Kemudian beliau kembali membuka salah satu dari folder-folder tersebut yang ternyata isinya banyak folder juga.
Folder-folder tersebut berisi karya-karya beliau seperti buku dan paper yang telah disampaikan pada workshop, seminar, dan lesson study yang dilaksanakan baik di dalam maupun di luar negeri. Ada juga folder yang berisi referensi yang luar biasa banyaknya. Saya sampai berpikir kalau laptop Pak Marsigit sudah seperti “Google” saja. Segala referensi sepertinya ada di sana, tinggal searching saja.
Beliau mulai menunjukkan folder-folder yang berisi referensi dengan berbagai karya filsuf dan berbagai referensi  aliran  seperti fondationalism, skepticism, fallibism, hedonism, dll yang hanya kami ketahui sebagian saja dari blog Pak Marsigit. Sungguh hal itu benar-benar membuka pikiran kami tentang banyaknya ilmu yang belum kami ketahui. Benar-benar tidak pantas jika selama ini kami sombong dengan ilmu yang telah kami kuasai. Dari isi laptop Pak Marsigit saja banyak yang belum kami ketahui, apalagi di luar sana masih ada banyak lagi ilmu  yang belum kami ketahui.

Kami juga diajak memahami karya-karya para filsuf dengan memahami kalimat-demi kalimat. Beliau mencoba membuka 1 file, kalau tidak salah karya Immanuel Kant. Kami kira hanya 21 halaman. Ternyata lebih dari 300 halaman, berbahasa Inggris, tidak ada gambar, berspasi 1, full text. Wah, kalau kami yang disuruh membaca, sudah malas duluan. Tapi beliau benar-benar mengajak kami mencoba memahami satu-demi satu kalimatnya. Itulah usaha kita dalam menggapai ilmu.
Betapa kagumnya kami melihat sosok Pak Marsigit. Beliau benar-benar membuat kami semakin merefleksikan diri kami. Selama ini, sudah berapa buku kah yang sudah kami baca? Bagaimana dengan buku atau referensi yang berbahasa Inggris? Tentu lah belum seberapa buku/referensi yang telah kami baca. Itu baru membaca. Pertanyaan selanjutnya adalah, karya apakah yang telah kami buat? Karya yang berharga paling-paling baru skripsi. Diminta membaca elegi dan comment saja masih susah, apalagi kalau diminta membuat karya. Sungguh kuliah tersebut memberi motivasi bagi kami, khususnya bagi diri saya. Betapa kami sangat perlu meningkatkan usaha kami agar kapasitas pengetahuan kami meningkat. Harus lebih giat dan semangat lagi dalam menggapai ilmu karena ilmu yang kami miliki belumlah seberapa.
 Terima kasih  Pak Marsigit. Anda memberi kami motivasi besar untuk lebih gigih dalam meningkatkan dimensi pengetahuan kami. Anda adalah salah satu contoh sosok orang yang rindu dan haus akan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Semoga kami dapat mengikuti jejak-jejak Bapak. Amin… Mohon doanya ya Pak…        

Pertanyaan:
Hambatan paling sulit ketika kita menimba ilmu adalah kemalasan yang ada dalam diri kita. Contohnya, ketika kita melihat referensi berbahasa asing (misalnya berbahasa Inggris), kita sudah malas. Referensi berbahasa Inggris saja sudah melemahkan semangat, apalagi referensi yang menggunakan bahasa lain, misalnya berbahasa Jepang, Korea, Jerman, Perancis, dll, sudah bisa dipastikan tidak akan dibaca. Mungkin bahasa Inggris, bagi Bapak sudah tidak menjadi masalah. Apa saran Bapak kepada kami agar dapat mengatasi masalah tersebut? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar