Refleksi Kuliah ke-13
Selasa, 27
November 2012 sekitar pukul 07.30 WIB, Pak Marsigit masuk ke ruang 300B, ruang
dimana kami akan melangsungkan kuliah filsafat ilmu. Berbeda dari biasanya,
kali ini Pak Marsigit membawa laptop. Sebenarnya tidak aneh sih, dosen datang
ke ruangan kami membawa laptop. Tapi, untuk Pak Marsigit, hal itu di luar
kebiasaan beliau. Pikiran kami sempat bertanya-tanya. Mungkinkah akan ada kuis yang
bahan-bahannya ada di laptop? Tanpa membawa laptop saja, pertanyaan kuis dari
beliau susah kami jawab. Apalagi jika membawa laptop, kemungkinan bahan kuis
yang akan disampaikan lumayan banyak dan sudah tentu sulit dijawab.
Dengan bantuan
mahasiswa, Pak Marsigit melakukan persiapan perkuliahan dengan mengatur meja,
menghidupkan LCD, dan beberapa persiapan lainnya. Posisi duduk kami pun seperti
biasanya, berkerumun mendekat dengan Pak Marsigit.
Setelah dimulai
dengan berdoa, laptop mulai dinyalakan. Sungguh pemandangan yang aneh bagi
kami. Tampilan awal laptop pada layar desktop Pak Marsigit penuh dengan folder.
Dari pojok kiri atas, sampai pojok kanan bawah, layar desktop penuh dengan
folder. Aneh, benar-benar aneh. Itulah yang ada di benak kami, khususnya saya.
Kenapa ya beliau menaruh folder sebanyak itu pada tampilan layar desktop?
Melihat gelagat
kami, beliau langsung paham kemudian berkata, “Ya inilah data-data saya. Bahkan
di rumah, saya masih mempunyai dua hardisk
lagi”. Subhanallah… Saya bertanya-tanya dalam hati, apa saja ya isinya? Beliau mulai membuka-buka local disk C, D, dan E. Beberapa memang
sudah hampir penuh. Dari sekian banyak folder, beliau membuka folder father yang isinya ternyata banyak
sekali folder. Kemudian beliau kembali membuka salah satu dari folder-folder
tersebut yang ternyata isinya banyak folder juga.
Folder-folder
tersebut berisi karya-karya beliau seperti buku dan paper yang telah disampaikan pada workshop, seminar, dan lesson study yang dilaksanakan baik di
dalam maupun di luar negeri. Ada juga folder yang berisi referensi yang luar
biasa banyaknya. Saya sampai berpikir kalau laptop Pak Marsigit sudah seperti
“Google” saja. Segala referensi sepertinya ada di sana, tinggal searching saja.
Beliau mulai
menunjukkan folder-folder yang berisi referensi dengan berbagai karya filsuf
dan berbagai referensi aliran seperti fondationalism, skepticism, fallibism,
hedonism, dll yang hanya kami ketahui sebagian saja dari blog Pak Marsigit. Sungguh
hal itu benar-benar membuka pikiran kami tentang banyaknya ilmu yang belum kami
ketahui. Benar-benar tidak pantas jika
selama ini kami sombong dengan ilmu yang telah kami kuasai. Dari isi laptop Pak
Marsigit saja banyak yang belum kami ketahui, apalagi di luar sana masih ada banyak
lagi ilmu yang belum kami ketahui.
Kami juga diajak
memahami karya-karya para filsuf dengan memahami kalimat-demi kalimat. Beliau
mencoba membuka 1 file, kalau tidak salah karya Immanuel Kant. Kami kira hanya
21 halaman. Ternyata lebih dari 300 halaman, berbahasa Inggris, tidak ada
gambar, berspasi 1, full text. Wah,
kalau kami yang disuruh membaca, sudah malas duluan. Tapi beliau benar-benar
mengajak kami mencoba memahami satu-demi satu kalimatnya. Itulah usaha kita
dalam menggapai ilmu.
Betapa kagumnya kami
melihat sosok Pak Marsigit. Beliau benar-benar membuat kami semakin
merefleksikan diri kami. Selama ini, sudah berapa buku kah yang sudah kami baca?
Bagaimana dengan buku atau referensi yang berbahasa Inggris? Tentu lah belum
seberapa buku/referensi yang telah kami baca. Itu baru membaca. Pertanyaan
selanjutnya adalah, karya apakah yang telah kami buat? Karya yang berharga paling-paling
baru skripsi. Diminta membaca elegi dan comment
saja masih susah, apalagi kalau diminta membuat karya. Sungguh kuliah tersebut
memberi motivasi bagi kami, khususnya bagi diri saya. Betapa kami sangat perlu
meningkatkan usaha kami agar kapasitas pengetahuan kami meningkat. Harus lebih
giat dan semangat lagi dalam menggapai ilmu karena ilmu yang kami miliki
belumlah seberapa.
Terima kasih
Pak Marsigit. Anda memberi kami motivasi besar untuk lebih gigih dalam
meningkatkan dimensi pengetahuan kami. Anda adalah salah satu contoh sosok
orang yang rindu dan haus akan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan.
Semoga kami dapat mengikuti jejak-jejak Bapak. Amin… Mohon doanya ya Pak…
Pertanyaan:
Hambatan paling sulit ketika kita
menimba ilmu adalah kemalasan yang ada dalam diri kita. Contohnya, ketika kita
melihat referensi berbahasa asing (misalnya berbahasa Inggris), kita sudah
malas. Referensi berbahasa Inggris saja sudah melemahkan semangat, apalagi
referensi yang menggunakan bahasa lain, misalnya berbahasa Jepang, Korea, Jerman,
Perancis, dll, sudah bisa dipastikan tidak akan dibaca. Mungkin bahasa Inggris,
bagi Bapak sudah tidak menjadi masalah. Apa saran Bapak kepada kami agar dapat
mengatasi masalah tersebut?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar