Refleksi Kuliah Filsafat Pertemuan ke-12 (20 Nov 2012)
Globalisasi, modernisasi,
industrialisasi, dan kemajuan teknologi merupakan empat hal yang tidak asing
lagi di telinga kita. Jika kita
mendengar keempat hal tersebut tentunya terlintas dalam benak kita tentang
keadaan yang serba praktis (pragmatism),
berorientasi manfaat (utilitarianism),
berorientasi pada materi (materialism),
dan cenderung mengutamakan kesenangan (hedonism).
Pragmatism, utilitarianism, materialism,
dan hedonism inilah yang sering disebut-sebut
Bapak Marsigit sebagai kekuatan Sang Power Now.
Adanya kekuatan Sang Power Now tersebut telah menjadikan orang berlomba-lomba dan
bersaing untuk saling mengalahkan. Siapa yang kuat dialah yang akan menjadi pemenang
dan menjadi pemimpin. Dengan demikian, Si pemenang tersebut akan dengan mudah
dapat menguasai dan mengendalikan yang lemah.
Sebagai contoh: Negara Amerika yang unggul dalam ekonomi, perindustrian,
teknologi, dan politiknya tentu saja membuat Amerika dapat dengan mudah
mempengaruhi/mengendalikan bangsa lain.
Apa pengaruhnya bagi bangsa lain? Penjelasannya
sebagai berikut. Misalnya jika kita soroti dari segi teknologinya. Orang tentu
tidak mau dibilang “kuper”. Oleh karena itu, orang akan berusaha terus
mengikuti arus perkembangannya. Lihat saja di lingkungan kita saat ini. HP, laptop,
kamera digital (Camdig), iPad, iPhone, dan berbagai macam alat
elektronik lainnya telah menjamur di mana-mana. Tidak hanya itu, masih banyak
lagi barang elektronik seperti TV, mesin cuci, kipas angin, dan berbagai
peralatan elektronik rumah tangga lainnya, semakin hari semakin banyak saja
orang yang menggunakannya. Belum lagi kendaraan pribadi (mobil maupun sepeda
motor) yang semakin meningkat jumlahnya.
Teknologi memang memudahkan kehidupan kita
dalam berbagai hal. Teknologi juga memberikan banyak keuntungan bagi kita. Contohnya,
dengan HP kita dengan mudah bisa berkomunikasi dengan orang lain walau jaraknya
jauh. Bahkan saat ini, HP tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi tetapi
dapat juga untuk berfoto, mendengarkan musik, merekam video, internetan, dan
berbagai fasilitas lainnya. Jika kita perhatikan di lingkungan sekitar kita,
hampir tidak ada orang yang tidak mempunyai HP. Bahkan anak TK (Taman
Kanak-Kanak) saja sudah menggunakan HP. Betapa kita sudah sangat tergantung
pada HP. Tanpa HP, hidup rasanya hampa. Kita akan susah berkomunikasi dengan
teman-teman atau keluarga kita di tempat yang jauh di sana.
Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah
bahwa orang-orang akan semakin banyak menggunakan barang-barang hasil kemajuan
teknologi. Semakin banyaknya permintaan tersebut tentunya akan meningkatkan industri.
Semakin banyak industri maka akan semakin banyak pula limbah pabrik yang dapat
merusak alam. Jika hal ini berlangsung berlarut-larut, sampai kapankah bumi
kita akan bertahan?
Sebagai manusia yang beriman, seharusnya
kita tidak boleh seperti itu. Seharusnya kita dapat menjaga alam agar tetap
subur/lestari. Dengan apakah kita bisa menjaga alam? Salah satunya adalah
mengurangi limbah industry. Itu artinya orang harus mengurangi penggunaan
barang-barang hasil kemajuan teknologi seperti HP, laptop,
TV, kipas angin, mesin cuci, mobil, sepeda motor, dll. Pertanyaan selanjutnya
adalah apakah kita bisa meninggalkan barang hasil kemajuan teknologi padahal
kita tahu bahwa barang-barang tersebut memberikan banyak manfaat atau kemudahan
dalam hidup kita? Tanpa HP saja hidup kita terasa hampa. Tanpa mobil atau sepeda
motor, orang akan susah bepergian ke mana-mana. Haruskah kita kembali ke zaman
tradisional agar alam/lingkungan kita tetap lestari? Di sinilah kekuatan Sang Power Now dimana setiap orang tidak dapat
melawannya. Semua orang telah ikut tenggelam dan terbawa oleh arusnya.
Pertanyaan:
Teknologi
telah memberikan kemudahan dan banyak keuntungan bagi kehidupan manusia. Akan tetapi dampaknya akan
merusak kelestarian alam. Apa langkah konkret kita dalam menghadapi kekuatan “Sang
Power Now” ini padahal kita tahu
sendiri bahwa kita pun tidak dapat meninggalkan segala fasilitas hasil kemajuan
teknologi? Haruskah kita kembali ke zaman tradisional agar alam/lingkungan kita
tetap lestari?