Membaca adalah salah satu jalan untuk membuka gerbang ilmu
pengetahuan. Dengan membaca, orang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada dan
yang mungkin ada secara lebih mendalam. Contoh: dengan membaca, orang di
Indonesia dapat mengetahui budaya serta kondisi sosial, politik, ekonomi orang
Amerika . Dengan membaca, orang yang belum pernah bepergian ke antariksa juga dapat
memahami karakteristik dan kondisi planet seperti merkurius, venus, pluto, dst.
Pada pertemuan terakhir perkuliahan Filsafat Ilmu, Selasa 8
Januari 2013, kegiatan membaca dilihat sebagai salah satu kegiatan ilmiah.
Sebagai seorang ilmuwan yang akan menghasilkan suatu karya tulis, membaca
sumber-sumber referensi sangatlah penting. Akan tetapi, seorang ilmuwan tidak
boleh sembarang memilih sumber referensi. Sumber bacaan yang akan digunakan
sebagai referensi haruslah berkualitas agar karya tulis yang dihasilkan
nantinya juga berbobot. Sumber bacaan sangat menentukan arah pemikiran kita.
Oleh karena itu, dengan membaca sumber bacaan yang akuntabel, pikiran kita
menjadi lebih terarah dan kebenarannya lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Sumber bacaan dapat diperoleh dari karya tulis yang telah
dibukukan dan diterbitkan melalui percetakan (sudah mempunyai nomor ISBN, sudah
melalui proses pengeditan, dsb), karya tulis yang dijurnalkan, atau karya tulis
yang telah dipublikasikan dalam seminar/workshop baik di tingkat nasional maupun
internasional. Sumber-sumber bacaan tersebut juga masih perlu dikaji ulang,
apakah karya tulis tersebut adalah sumber bacaan yang akuntabel. Hal ini dapat
dilihat dari tingkat pendidikan dan banyaknya karya tulis yang telah dihasilkan
si penulis. Sumber yang disarankan adalah sumber dari penulis dengan lulusan S3
dengan title doktor atau profesor.
Selain itu, perlu dilihat juga, karya apa saja yang telah dihasilkan oleh
penulis tersebut. Jika karyanya mengerucut pada bidang yang sama dengan
referensi yang akan kita ambil maka referensi tersebut dapat dikatakan cukup
valid. Sumber yang akuntabel ditulis berdasarkan penelitian si penulis atau
penelitian-penelitian orang lain yang direview.
Terakhir, pesan dari Bapak Marsigit
adalah: bacalah sumber primer (asli), jangan begitu saja percaya dengan sumber
sekunder karena sumber primer akan lebih valid dari pada sumber sekunder. Akan
tetapi, sumber primer mempunyai kelemahan yaitu:
1. Untuk memahami sumber primer (yang
mungkin menggunakan bahasa Inggris) lebih susah dari pada sumber sekunder yang
biasanya telah diterjemahkan atau ditulis orang lain dengan bahasa yang lebih
mudah dipahami.
2. Sumber primer terkadang juga susah
didapatkan karena terbatas.
Pertanyaan:
Mengingat bahwa sumber primer terkadang susah
didapatkan karena terbatas, apakah jika ada pendapat Immanuel Kant yang
terdapat pada bukunya Shabel kemudian dikutip oleh Bapak Marsigit atau
dapat ditulis dengan: Kant (dalam Shabel (dalam Marsigit)), boleh digunakan
sebagai referensi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar