Senin, 14 Januari 2013

MENINGKATKAN KEILMIAHAN SUATU KARYA TULIS

Refleksi Terakhir Perkuliahan Filsafat, Selasa 8 Januari 2013 


Membaca adalah salah satu jalan untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan. Dengan membaca, orang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada secara lebih mendalam. Contoh: dengan membaca, orang di Indonesia dapat mengetahui budaya serta kondisi sosial, politik, ekonomi orang Amerika . Dengan membaca, orang yang belum pernah bepergian ke antariksa juga dapat memahami karakteristik dan kondisi planet seperti merkurius, venus, pluto, dst.   
Pada pertemuan terakhir perkuliahan Filsafat Ilmu, Selasa 8 Januari 2013, kegiatan membaca dilihat sebagai salah satu kegiatan ilmiah. Sebagai seorang ilmuwan yang akan menghasilkan suatu karya tulis, membaca sumber-sumber referensi sangatlah penting. Akan tetapi, seorang ilmuwan tidak boleh sembarang memilih sumber referensi. Sumber bacaan yang akan digunakan sebagai referensi haruslah berkualitas agar karya tulis yang dihasilkan nantinya juga berbobot. Sumber bacaan sangat menentukan arah pemikiran kita. Oleh karena itu, dengan membaca sumber bacaan yang akuntabel, pikiran kita menjadi lebih terarah dan kebenarannya lebih bisa dipertanggungjawabkan.
Sumber bacaan dapat diperoleh dari karya tulis yang telah dibukukan dan diterbitkan melalui percetakan (sudah mempunyai nomor ISBN, sudah melalui proses pengeditan, dsb), karya tulis yang dijurnalkan, atau karya tulis  yang telah dipublikasikan dalam seminar/workshop baik di tingkat nasional maupun internasional. Sumber-sumber bacaan tersebut juga masih perlu dikaji ulang, apakah karya tulis tersebut adalah sumber bacaan yang akuntabel. Hal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan dan banyaknya karya tulis yang telah dihasilkan si penulis. Sumber yang disarankan adalah sumber dari penulis dengan lulusan S3 dengan title doktor atau profesor. Selain itu, perlu dilihat juga, karya apa saja yang telah dihasilkan oleh penulis tersebut. Jika karyanya mengerucut pada bidang yang sama dengan referensi yang akan kita ambil maka referensi tersebut dapat dikatakan cukup valid. Sumber yang akuntabel ditulis berdasarkan penelitian si penulis atau penelitian-penelitian orang lain yang direview.  Terakhir, pesan dari Bapak Marsigit adalah: bacalah sumber primer (asli), jangan begitu saja percaya dengan sumber sekunder karena sumber primer akan lebih valid dari pada sumber sekunder. Akan tetapi, sumber primer mempunyai kelemahan yaitu:
1.    Untuk memahami sumber primer (yang mungkin menggunakan bahasa Inggris) lebih susah dari pada sumber sekunder yang biasanya telah diterjemahkan atau ditulis orang lain dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.  
2.    Sumber primer terkadang juga susah didapatkan karena terbatas.

Pertanyaan:
Mengingat bahwa sumber primer terkadang susah didapatkan karena terbatas, apakah jika ada pendapat Immanuel Kant yang terdapat pada bukunya Shabel kemudian dikutip oleh Bapak Marsigit atau dapat ditulis dengan: Kant (dalam Shabel (dalam Marsigit)), boleh digunakan sebagai referensi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar