Refleksi
Kuliah Filsafat Ilmu, Pertemuan ke-3, Selasa 18 September 2012
Pada kuliah filsafat pertemuan ke-3 ini,
saya tertarik dengan pertanyaan teman sekelas saya, Maya Nurlita. Maya bertanya
kepada Pak Marsigit tentang “takjub”. Menurut Pak Marsigit, takjubnya orang
berfilsafat bukanlah takjub terhadap suatu kejadian yang luar biasa (extraordinary) seperti peristiwa meletusnya
gunung berapi, tsunami, meledaknya bom, runtuhnya menara, dll. Akan tetapi,
takjubnya orang berfilsafat yaitu pada kejadian-kejadian sederhana yang
kebanyakan orang tidak menyadarinya.
Mendengar jawaban dari Pak Marsigit
tentang takjubnya orang berfilsafat tersebut telah mengingatkan saya pada suatu
kejadian sederhana tetapi membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Ketika itu,
saya akan melaksanakan sholat tarawih di masjid Al Fath (daerah Seturan,
Yogyakarta). Kebetulan masjid tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai satu (bawah)
untuk para jama’ah laki-laki dan lantai dua (atas) untuk para jama’ah
perempuan. Saya berada di lantai dua dan duduk pada barisan depan yang langsung
berhadapan dengan tembok. Sebelum tarawih dimulai, biasanya ada kultum. Nah
saat kultum itulah, saya memperhatikan rombongan semut berjalan dalam satu
baris di tembok. Semut-semut tersebut berjalan dari dua arah yang berlawanan,
ada yang dari atas, ada juga yang dari bawah. Semut yang dari bawah berjalan ke
atas, begitu juga sebaliknya.
Menurut saya, kejadian tersebut
benar-benar menarik perhatian. Dalam hati, saya bertanya: “Mengapa setiap kali
bertemu, semut-semut tersebut berhenti sejenak, saling mendekatkan kepala,
kemudian lanjut berjalan lagi? Apakah mereka saling mengucap salam, saling
menyapa, atau saling berjabat tangan seperti layaknya manusia jika bertemu
dengan sahabat atau kerabatnya? Andai mereka dapat berbicara seperti manusia,
apa yang mereka katakan saat berpapasan dengan semut lain? Mengapa mereka hanya
berjalan pada satu baris? Mengapa mereka tidak berjalan pada 2 baris (satu
baris untuk jalur semut yang berjalan ke atas dan satu baris lagi untuk jalur
semut yang berjalan ke bawah)? Bukankah dengan dua baris, perjalanan mereka
akan lebih cepat tanpa harus berpapasan
dengan semut-semut yang berasal dari arah yang berlawanan?
Dengan demikian, saya akhirnya sadar
bahwa ternyata saat itu saya sedang berfilsafat. Hal positif yang dapat saya
ambil dari kejadian itu adalah seharusnya manusia bisa meniru kebiasaan baik semut
yang menyapa semut lainnya “tanpa pandang bulu”. Berbeda dengan manusia, terkadang
kita hanya akan menyapa orang lain jika kita sudah mengenal atau jika orang
tersebut adalah saudara/teman yang kita sukai saja. Sedangkan orang yang tidak
disukai, biasanya orang malas untuk menyapa/mengucapkan salam.
Pertanyaan:
Saya
merasa takjub pada peristiwa mimpi karena kadang kita sadar tetapi juga tidak
sadar. Ketika kita bermimpi, apakah kita juga termasuk sedang berfilsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar