Senin, 24 September 2012

TAKJUBNYA ORANG BERFILSAFAT

Refleksi  Kuliah Filsafat Ilmu, Pertemuan ke-3, Selasa 18 September 2012

Pada kuliah filsafat pertemuan ke-3 ini, saya tertarik dengan pertanyaan teman sekelas saya, Maya Nurlita. Maya bertanya kepada Pak Marsigit tentang “takjub”. Menurut Pak Marsigit, takjubnya orang berfilsafat bukanlah takjub terhadap suatu kejadian yang luar biasa (extraordinary) seperti peristiwa meletusnya gunung berapi, tsunami, meledaknya bom, runtuhnya menara, dll. Akan tetapi, takjubnya orang berfilsafat yaitu pada kejadian-kejadian sederhana yang kebanyakan orang tidak menyadarinya. 
Mendengar jawaban dari Pak Marsigit tentang takjubnya orang berfilsafat tersebut telah mengingatkan saya pada suatu kejadian sederhana tetapi membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Ketika itu, saya akan melaksanakan sholat tarawih di masjid Al Fath (daerah Seturan, Yogyakarta). Kebetulan masjid tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai satu (bawah) untuk para jama’ah laki-laki dan lantai dua (atas) untuk para jama’ah perempuan. Saya berada di lantai dua dan duduk pada barisan depan yang langsung berhadapan dengan tembok. Sebelum tarawih dimulai, biasanya ada kultum. Nah saat kultum itulah, saya memperhatikan rombongan semut berjalan dalam satu baris di tembok. Semut-semut tersebut berjalan dari dua arah yang berlawanan, ada yang dari atas, ada juga yang dari bawah. Semut yang dari bawah berjalan ke atas, begitu juga sebaliknya.
Menurut saya, kejadian tersebut benar-benar menarik perhatian. Dalam hati, saya bertanya: “Mengapa setiap kali bertemu, semut-semut tersebut berhenti sejenak, saling mendekatkan kepala, kemudian lanjut berjalan lagi? Apakah mereka saling mengucap salam, saling menyapa, atau saling berjabat tangan seperti layaknya manusia jika bertemu dengan sahabat atau kerabatnya? Andai mereka dapat berbicara seperti manusia, apa yang mereka katakan saat berpapasan dengan semut lain? Mengapa mereka hanya berjalan pada satu baris? Mengapa mereka tidak berjalan pada 2 baris (satu baris untuk jalur semut yang berjalan ke atas dan satu baris lagi untuk jalur semut yang berjalan ke bawah)? Bukankah dengan dua baris, perjalanan mereka akan lebih cepat tanpa harus berpapasan dengan semut-semut yang berasal dari arah yang berlawanan?
Dengan demikian, saya akhirnya sadar bahwa ternyata saat itu saya sedang berfilsafat. Hal positif yang dapat saya ambil dari kejadian itu adalah seharusnya manusia bisa meniru kebiasaan baik semut yang menyapa semut lainnya “tanpa pandang bulu”. Berbeda dengan manusia, terkadang kita hanya akan menyapa orang lain jika kita sudah mengenal atau jika orang tersebut adalah saudara/teman yang kita sukai saja. Sedangkan orang yang tidak disukai, biasanya orang malas untuk menyapa/mengucapkan salam.
Pertanyaan:
Saya merasa takjub pada peristiwa mimpi karena kadang kita sadar tetapi juga tidak sadar. Ketika kita bermimpi, apakah kita juga termasuk sedang berfilsafat? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar