Kamis, 06 September 2012

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-1

Selasa, 4 September 2012 
Filsafat dapat berarti hidup. Fungsinya untuk membangun hidup. Maka metodenya adalah menggunakan prinsip-prinsip kehidupan. Filsafat juga dapat berarti pola pikir atau olah pikir manusia. Pola pikir manusia antara yang satu dengan yang lainnya akan cenderung berbeda. Oleh karena itu, dari banyak orang akan terbentuk bermacam-macam pola pikir.   
Setiap orang bebas berpikir/berfilsafat. Setiap orang bebas mengungkapkan pendapatnya sesuai dengan apa yang dia rasakan atau dia pikirkan. Namun, berpikir/berfilsafat juga ada batasannya. Ketika seseorang merasa telah salah berpikir, segeralah beristighfar, meminta ampun kepada Tuhan. 
Objek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Segala yang ada adalah sesuatu yang telah diketahui. Sedangkan yang mungkin ada adalah sesuatu yang belum diketahui. Terkadang, sesuatu yang belum diketahui akan berubah menjadi sesuatu yang diketahui, hanya dalam waktu yang sangat singkat. Contoh: dua orang yang belum saling mengenal, beberapa saat kemudian mereka mencoba saling berkenalan. Dengan demikian, mereka kemudian menjadi tahu nama satu sama lain. 
Orang berfilsafat dapat dikatakan dia berpikir yang berbeda dari biasanya atau berpikir yang tidak seperti orang pada umumnya. Karena itulah, ketika seseorang mulai berfilsafat maka dia harus siap jika nanti akan banyak orang yang menentang pikirannya. 
Pertanyaan: 
  1. Batasan berpikir adalah: segera beristighfar, meminta ampun kepada Tuhan ketika seseorang merasa telah salah berpikir. Bagaimana jika seseorang telah salah berpikir tetapi dia tidak merasa bahwa pikirannya itu salah? Masih beruntung, seseorang yang menganggap benar pikirannya, sekian lama kemudian baru menyadari bahwa apa yang dia pikirkan ternyata salah. Bagaimana jika sampai akhir hayatnya dia tidak tahu bahwa ternyata apa yang dia pikirkan itu salah? 
  2. Bagaimana jika orang lain menganggap aneh pada orang yang suka berfilsafat? (Karena orang yang suka berfilsafat seolah-olah hanya mengikuti cara berpikirnya sendiri, tidak melihat kebiasaan/cara berpikir masyarakat pada umumnya). 
 Jawaban dari Pak Marsigit:   
  1. Beristighfar, meminta ampun kepada Tuhan jangan hanya ketika kita salah. Bahkan setiap saat/waktu, kapanpun, di manapun  kita seharusnya meminta ampun kepada Tuhan.
  2. Yang penting , kita punya dasar dan alasan yang baik mengapa kita melakukan sesuatu. Oleh karena itu, jangan khawatir akan dianggap aneh oleh orang lain, karena kita mempunyai dasar/alasan yang mungkin belum diketahui oleh mereka. Itulah hidup, di mana manusia menerjemahkan dan diterjemahkan. Jika kita menerjemahkan orang lain, maka sudah sepantasnya kita ikhlas diterjemahkan oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar