Sabtu, 15 September 2012

KONTRADIKSI DALAM FILSAFAT

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu, Pertemuan Ke-2, Selasa 11 September 2012 
Kontradiksi dalam filsafat berbeda dengan kontradiksi dalam matematika. Kontradiksi dalam matematika artinya tidak konsisten. Sesuatu yang tidak konsisten, pastilah kontradiksi. Tidak konsisten dalam matematika adalah tautologi, artinya apapun pasti benar. Sedangkan kontradiksi dalam filsafat adalah bukan identitas. 
Jika berlaku hukum identitas maka aku sama dengan aku, kamu sama dengan kamu, telur sama dengan telur, satu sama dengan satu, apel yang di Kebumen sama dengan apel yang di Yogyakarta, Endang yang dulu sama dengan Endang yang sekarang, dan lain sebagainya.
Coba kita renungkan kembali. Jika kita berpikir dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya maka aku tidak sama dengan aku, kamu tidak sama kamu, telur tidak sama dengan telur, satu tidak sama dengan satu, apel yang di Kebumen tidak sama dengan apel yang di Yogyakarta, Endang yang dulu tidak sama dengan Endang yang sekarang, dan lain sebagainya.
Aku yang pertama pastilah tidak sama dengan aku yang kedua karena aku yang pertama diucapkan lebih dulu, sehingga akan berbeda seper sekian detik. Kamu yang pertama pastilah tidak sama dengan kamu yang kedua karena kamu yang pertama diucapkan lebih dulu, sehingga akan berbeda seper sekian detik. Telur yang pertama pastilah tidak sama dengan telur yang kedua karena  telur yang pertama diucapkan lebih dulu, sehingga akan berbeda seper sekian detik. Satu yang pertama pastilah tidak sama dengan satu yang kedua karena satu yang pertama diucapkan lebih dulu, sehingga akan berbeda seper sekian detik. Apel yang di Kebumen pastilah tidak sama dengan apel yang di Yogyakarta karena menempati ruang yang berbeda. Endang yang dulu pastilah berbeda dengan Endang yang sekarang karena sudah menempati ruang dan waktu yang berbeda. 
Jadi, semua di alam ini adalah kontradiksi (karena tidak berlaku hukum identitas). Yang ada hanyalah relatif terhadap ruang dan waktu. Satu-satunya yang tidak kontradiksi hanyalah Allah, Dzat Yang Menguasai jagad raya ini. 
Pertanyaan:
Rene Descartes terkenal dengan teori keragu-raguannya. Bahkan dengan keragu-raguannya tersebut, dia bisa menemukan Tuhan. Bagaimana Rene Descartes dapat menemukan Tuhan dengan keragu-raguannya tersebut? Bukankah adanya Tuhan memang wajib diyakini bukan diragukan? Apakah hal tersebut termasuk kontradiksi? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar